Nia dan Coretannya

August 20, 2008

ShOrT MaSsaGe SeRvIcE

Filed under: Diary
Sssst ada SMS

LoVe MeSSaGe

Life ends when you stop dreaming
Life ends when you stop dreaming, hope ends when you stop believing and love ends when you stop caring. So dream hope and love…Makes Life Beautiful

Time will always fly
Time will always fly, but our love will never die. Keep in touch and remeber me
When You give your heart
When time comes for u to give ur heart to someone, make sure u select someone who will never break ur heart, cuz broken hearts has never spare parts.
(more…)

August 2, 2008

The KiTe RuNnEr

Filed under: Resensi Buku


 

 The Kite Runner

Resensi Buku

Judul Buku        : The Kite Runner

Penulis             : Khaled Hosseini

Penerjemah      : Berliani M. Nugrahani

Penyunting       : Pangestuningsih

Penerbit          : P.T. Mizan Pustaka

Cetakan          : I ( Pertama)

Tahun Terbit    : Maret 2006

Tebal  Buku     : 615 halaman

Nomor ISBN   : 979-3269-46-4

 

        Judul buku ini sangat menarik, judulnya sangat simpel dengan cover yang sangat menarik, dua orang anak yang saling bergandengan tangan, mereka bergandengan tangan di bawah langit yang cerah dengan awan yang berarak putih  di temani sebuah layang-layang yang melayang bebas. sekilas pembaca berpikir untuk siapakah buku ini ? anak-anak, remaja atau orang dewasa.

       Buku ini menceritakan seorang anak yang bernama Amir yang tinggal di Afganistan sebelum peperangan di Afganistan berkecamuk. Amir adalah seorang anak dari keluarga  terpandang, dia tinggal bersama ayahnya dan pelayan yang bernama Ali serta anaknya Hassan. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Amir tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana ibunya. Ayahnya tidak pernah menceritakan tentang ibunya selain mengatakan kalau ibunya meninggal ketika melahirkannya.

       Amir bersahabat dengan dengan Hassan, Hassan adalah satu-satunya teman bermainnya sekaligus saudaranya  yang selalu membelanya, yang selalu  berdiri disampingnya untuk melindunginya, yang selalu membuatnya cemburu karena ayahnya pun sangat menyayangi Hassan. Hassan yang selalu melakukan segalanya untuk Amir, melakukan tanpa pamrih. Dalam hidupnya yang ada hanyalah pengabdian untuk Amir. Untuk Amir kesekian kalinya selalu itu yang dilakukan Hassan.

       Suatu ketika Amir yang mengkhianati Hassan. Rasa bersalah menghantui sepanjang hidupnya. Menyingkirkan Hassan  dari kehidupannya adalah pilihan tersulit yang harus diambilnya. Namun setelah Hassan pergi, tak ada yang tersisa dari masa kecilnya. Seperti layang-layang putus, sebagian dari dirinya terbang bersama angin. Tetapi masa lalu yang telah terkubur  dalam-dalam pun senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti rapuhnya layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

        Di akhir kisah kecemburuan Amir terjawab,  kenapa ayahnya begitu menyayangi Hassan?

        Setelah membaca buku The Kite Runner karya Khaled Hosseini, banyak sekali yang kita dapatkan. Kita seolah diajak untuk berjalan-jalan dan menikmati keindahan, kebiasaan dan adat istiadat suatu negara yang akhirnya porak poranda karena peperangan.  Begitu piawainya sang pengarang membawa emosi pembaca dalam mendeskripsikan kejadian-kejadian yang terjadi, seolah pembaca turut merasakan apa yang terjadi dalam cerita tersebut.

       Disamping segala kelebihan yang dimiliki buku tersebut, seperti novel atau buku terjemahan pada umunya dalam novel tersebut terdapat bahkan banyak kata-kata yang kurang dipahami dan sayangnya juga dalam buku tersebut tidak memuat “Glosarium” yang dapat memudahkan pembaca memahami arti kata yang tidak biasa digunakan.

July 29, 2008

KeNaPa HaRuS TaKuT

Filed under: Diary

       Takuuuut
 

        Memilik rasa takut atau menjadi orang penakut bukanlah keinginan setiap manusia. Mungkin setiap orang mendambakan dirinya menjadi seorang pemberani. Tapi kita pun tak mampu menepis rasa takut yang tumbuh dalam diri kita. Bermacam-macam rasa takut yang kita miliki walaupun terkadang kita pun tidak tahu kenapa kita harus takut ?? dan oleh apa kita takut. Ada orang yang takut oleh hantu padahal sebenarnya dia belum pernah melihat hantu.

         Mungkin aku termasuk orang yang penakut, aku takut jika aku harus berjalan di kegelapan walau aku sangat suka tidur dalam kegelapan dan tidak bisa tidur kalau kamarku terang benderang, aku takut seorang diri di rumah walau aku tidak tahu apa yang kutakutkan. Terkadang rasa takut yang kumiliki seringkali membuatku tertawa dan malu pada diri sendiri.

         Ada pengalaman yang menurutku sangat lucu dan kalau teringat kejadian itu aku suka tertawa sendiri. Di rumahku ada sepeda yang cara menyimpannya di gantung, sebagian badan sepeda terhalang oleh rak sepatu, saat itu aku lagi nonton TV bersama anak-anakku, kebetulan dari ruang TV bisa terlihat keberadaan sepeda. Ketika kami sedang asyik nonton tiba-tiba ban sepeda bagian depan berputar-putar semakin lama semakin kencang, terus terang aku merasa takut luar biasa. Tapi mau berteriak atau menunjukkan rasa takut kasihan juga sama anak-anak.

          Aku tak memiliki keberanian untuk sekedar melihat dan mendekati roda sepeda, aku hanya menenangkan anak-anak sambil berkata jangan takut ….emoticon padahal aku sendiri takutnya luar biasa. Untungnya pembantuku yang lumayan pemberani akhirnya menghampiri sepeda yang tergantung tersebut, setelah sampai di tempat sepeda pembantuku tertawa terbahak-bahak, ternyata  di dalam roda tersebut ada tikus yang sedang berlari dan tidak sampai-sampai. Semakin cepat tikus berlari, semakin cepat pula roda sepeda berputar.

        Pembantuku dengan cekatan memukul tikus tersebut, dan semakin memperparah keadaan karena kami semua takut oleh tikus. Anak-anak menjerit-jerit dan aku pun menyelamatkan diri sambil menuntun anak-anak untuk menyelamatkan diri dari kejaran seekor tikus. Dan lucunya lagi kami pun tak tahu kemana larinya tikus. Dan kami pun tak tahu apakah tikus tersebut mengejar kami atau tidak, tapi kami begtu sibuk menyelamatkan diri………emoticon.

        

 

          

         

 

 

 

July 23, 2008

TrIo MaCaN LaGi MaNdi

Filed under: Cerita Nia

        

GaMbAr KiRiMaN Suatu hari aku mendapat kiriman email dari temanku Bapak Wawan dari Manokwari. Gambarnya adalah tiga ekor macan yang sedang mandi. Mendengar kata Trio Macan semua orang termasuk aku, pasti berpikir yang tidak-tidak." Tiga orang penyanyi yang menamakan dirinya Trio Macan." Yang jelas sebelum dibuka gambarnya ada rasa berdebarnya juga " jangan ….jangan …." " Maaf yah Pak saya sudah berpikir yang tidak-tidak.

          Setelah melihat gambarnya aku langsung tertawa emoticon, dan malu pada diriku yang sudah berpikir yang tidak-tidak. Rasanya malu sendiri sih kalau tertawa sendiri, akhirnya kuperlihatkan pada teman-teman yang lain sambil sedikit menggunakan trik’s menipu emoticon, dan seperti aku semua juga berpikir kalau Trio Macan itu penyanyi Indonesia yang cukup terkenal. ( Terima kasih Untuk Pak Wawan80 yang telah mengirimkan gambar).
 

June 24, 2008

KeNaPa HaRuS AkBar

Filed under: Tentang Anak-anak

    Air Mata Bunda

Gambar diambil dari,thembemz.blogspot. 

 

   Kelulusan sudah berlalu, walaupun tidak seratus persen yang lulus, sekolahku 98,44 % tingkat kelulusannya. Ada 1,56 % yang tidak lulus, salah satunya adalah Akbar murid di kelasku. Terus terang aku sangat sedih sekali, kenapa harus dia ? Selama aku mengajarnya dia tergolong anak yang baik, walaupun dia tidak pintar tapi di cukup rajin ke sekolah dan mengikuti pemantapan. Padahal masih banyak anak yang lain, anak yang malas ke sekolah dan sedikit nakal, bahkan ada anak yang tidak pernah sekolah, dalam satu semester hanya beberapa hari dia sekolah dan ketika mengikuti UN dia dapat lulus dengan nilai yang baik.

        Hari-hari sebelum kelulusan adalah hari-hari yang sangat melelahkan buatku, mulai dengan acara Family Day di sekolah anakku yang kebetulan acara tersebut dilaksanakan di luar sekolah jadi cukup menyita waktu dan tenaga. kedua HP-ku kena Virus, awalnya aku mendapat MMS dari seseorang yang berupa Photo yang tak dapat kubuka, dasar aku orangnya suka penasaran kucoba terus untuk dibuka, yang ternyata isinya virus, jadi setiap aku ngirim SMS pasti aku kirim MMS terima kasih untuk ‘Balga Pardede’ yang telah meluangkan waktu dan tenaga untukku." Urusan virus di HP selesai tinggal temenku Trio Kwek-kwek yang terus-terusan mengajakku mengambil baju untuk perpisahan. Akhirnya kami pergi berenam, Teh Ela dibonceng olehku, sepanjang jalan kami ngobrol dan tak terasa kami nyasar, harusnya bel juga, parahnya bukan satu atau dua tapi sampai puluhan, ada yang bilang nomorku kena tapi hal itu dibantah oleh temenku yang kebetulan MMS itu nyasar padanya, dia pun tak lupa mengirimkan beberapa anti virus sambil menuntunku untuk membuang virus tersebut, ternyata tak semudah kubayangkan, sampai bermacam-macam anti virus dicoba, aku hampir putus asa, kubilang udah akh…aku ganti HP aja, "bentar dulu," ujarnya. Coba lagi yang ini. Akhirnya Virus itu hilang dari HP-ku "Terima kasih untuk ok ini….lurus… "gpp deh masih Bandung,"  ujar Teh Ela. Kami sepakat untuk parkir di Gramedia,  ternyata penuh banget dan tidak bisa parkir disana. Kuputuskan untuk parkir sendiri Teh Ela kusuruh menunggu, stelah kuparkir motorku kucari Teh Ela ternyata sudah tidak ada di tempat tadi, aku bingung, kucari kesana-sini, aku lupa tasku dibawa Teh Ela, dompet dan HP-ku ada disana. aku bingung dan betul-betul bingung. Tapi Alhamdulillah akhirnya ketemu walau cukup lama mencari.

       Sore hari baru pulang, pukul setengah enam aku sampai di sekolah lagi, sambil melihat informasi kelulusan untuk besok, ternyata belum ada, untuk informasi paling pukul sepuluh malam. (more…)

June 4, 2008

MeNaRa GaDiNg

Filed under: CerBung

 

 

Bagian IV

Hari sabtu aku pulang kerja pukul satu siang, jadi ada waktu untuk menyambut kepulangan kakakku. Pak Thio akan datang ke rumah sekitar pukul tujuh malam, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Aku membeli makanan kesukaan kakakku Nanda, kalau Kak Manda aku tidak perlu menyiapkan hal-hal yang khusus karena dia sering pulang ke Bandung, hanya beberapa bulan ini Kak Manda tidak pulang ke Bandung, pekerjaan terlalu menyita waktunya. Pukul setengah tiga aku sampai di rumah, kulihat mobil Kak Manda sudah terparkir dihalaman. Ku ketuk pintu sambil kuucapkan salam, perlahan kubuka pintu kemudian berjalan ke ruang tengah, kulihat kak Nanda dan Kak Manda duduk disamping kedua orangtuaku, kuhampiri mereka, pertama kupeluk Kak Manda sambil menanyakan kabarnya lalu aku beranjak menghampiri Kak Nanda kami saling berpandangan. “ Kenapa Ra….! kamu kaget yah! melihat kulit kakak yang semakin menghitam,atau jangan-jangan kamu pikir, kakak orang Papua yang terdampar ke Bandung” ujarnya sambil menghampiri dan memelukku. “Kakak terlalu ganteng, untuk jadi suku asli Papua,” candaku sambil membalas pelukannya.” “Bagaimana dengan pekerjaanmu ?” Tanya kakakku. “Baik,” jawabku singkat. “Kakak sendiri bagaimana?” “Yah…. namanya bekerja, tapi kakak senang kok disana, “ “Tahu nggak Kak?” tanyaku lirih. “Apa,” jawab kakakku. “Aku paling takut kalo kakak betah disana, terus kakak dapat istri orang sana.” “Heei …..kamu mau yah punya kakak ipar orang Papua,” Ujar Kak Manda. “Lho….emang ada yang salah dengan orang Papua?” ayahku menimpali, diiringi tawa kami. “Denger yah … ! di Papua tidak seperti yang kalian bayangkan, disana banyak kok perempuan cantik.” “Oh…ya,” jawab kami serempak. “ Ya ….mereka pendatang sih, kalau suku aslinya kalian sendiri kan tahu,” ujar kakakku lagi. “ Dari tadi kalian bercanda saja, lebih baik kalian istirahat dulu, Manda, Nanda kalian kan belum istirahat, istirahatlah dulu nanti kan masih banyak waktu.” Ujar ibuku bijak. Di kamar kubaringkan tubuhku,kebahagian menyelimuti hatiku, kebahagiaan dalam bentuk yang lain. Kebahagiaan yang sering kutemukan jika kami sedang berkumpul, perlahan kupanjatkan syukur, karena aku memiliki kedua orang tua yang selalu memahami kami anak- anaknya, kakak-kakakku yang selalu menyayangiku, tiba-tiba menyelinap rasa takut, takut kehilangan mereka. Selepas magrib, aku, kakakku dan ibuku menyiapkan makan malam dibantu Bik Nur pembantu kami yang setia. “ Pak Thio kesini nggak?” Tiba-tiba ibuku bertanya. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Kak Manda bertanya, “ Siapa Pak Thio?” Ibuku hanya tersenyum sambil memandangku. “Wah … yang sudah punya pendamping kok diam-diam sih,”ujar Kak Manda. Aku tersenyum. “Nggak diam-diam kok…! abis Kak Manda jarang pulang sih, padahal Jakarta Bandung kan deket,” jawabku membela diri. “Jadi kakak yang salah nih…?” jawabnya sambil tersenyum. Aku tertawa sambil berujar,” nanti malam dia kesini, ingin berkenalan dengan kakak-kakakku yang cantik dan ganteng.” “Siapa yang mau berkenalan denganku,” tiba-tiba Kak Nanda berdiri disampingku. “Ini lho …! rupanya adik kita diam-diam sudah punya pendamping,” ujar Kak Manda sambil tersenyum menggoda. (more…)

June 2, 2008

MeNaRa GaDiNg

Filed under: Diary

 

 

Bagian III

    Sudah seminggu Pak Thio berada di Jerman, walaupun begitu, aku tidak merasa kehilangan, karena setiap ada kesempatan Pak Thio selalu memberikan kabar lewat SMS. Aku kembali mendapatkan sebuah email dari Dicky, aku ragu untuk membukanya. Tapi akhirnya kubuka juga email tersebut. Dear Ira Yuni Mungkin aku terlalu percaya diri, aku begitu yakin kau akan membalas setiap email yang kukirim. Ternyata hampir sebulan lebih bahkan sekarang sudah bulan kedua, kau tak kunjung membalas. Aku pun berpikir, mungkinkah kau sudah tak sendiri??? atau ada seseorang yang begitu lancang menggantikan posisiku, maafkan aku menyebutnya lancang, karena aku belum bisa menerima hal itu. Yang merindukanmu, Dicky Tiba-tiba tanganku refleks meripley email tersebut. To : Dicky Aku memiliki hak untuk tidak membalas email-email yang kau kirimkan, seperti kau pun punya hak untuk meninggalkan aku, kapan pun kau mau, dan aku pun punya hak untuk tidak menjelaskan, seperti kau pergi tanpa penjelasan. Salam, Ira Yuni Email sudah terkirim, tiba-tiba ada perasaan sakit dalam hatiku, kupikir betapa egoisnya dia, datang dan pergi seenak hatinya. Tiba-tiba Hpku berbunyi ada SMS masuk dari Pak Thio, isinya menanyakan apakah aku sudah makan atau belum? Kulirik jam dipergelangan tanganku pukul dua belas lebih lima menit, Pak Thio selalu memperhatikan aku setiap saat walau hanya lewat SMS, tapi aku sangat senang, dan semakin meneguhkan aku untuk mengubur nama Dicky dari kehidupanku. Aku balas SMS-nya sambil menanyakan keadaannya, dan berpesan supaya menjaga diri selama di negeri orang. Tak terasa sudah dua minggu Pak Thio berada di Jerman, hari ini rencananya dia pulang bersama rekannya dari Jerman, seorang teknisi mesin tekstil. Tiba-tiba kerinduan menyelinap dalam hatiku, hari ini jarum jam merambat begitu lama sekali. Aku tak kan bisa bertemu Pak Thio hari ini, dia sampai di Jakarta pukul tiga sore, paling aku bisa bertemu dia besok pagi di kantor. Pukul delapan malam Pak Thio datang ke rumahku, aku kaget sekaligus senang. Ternyata Pak Thio belum ke rumahnya setelah mengantar rekannya ke sebuah hotel, dia langsung ke rumahku. Dia memberiku oleh-oleh sebuah jam tangan Tissot dari kayu berwarna coklat dengan tali dari kulit berwarna coklat pula, jam tersebut unik dan cantik sekali menurutku, didalamnya ada gambar tiga ekor rusa dan dua buah pohon cemara berwarna keemasan, jarum jam berwarna keemasan pula. Dia juga memberikan sweater buat kedua orang tuaku ditambah lagi beberapa keping coklat. Orang tuaku mengucapkan terima kasih dan sangat senang sekali dengan oleh-oleh tersebut. Pukul Sembilan Pak Thio pamit pulang itu pun aku yang menyarankan dia pulang, aku merasa kasihan karena kelelahan begitu nampak di wajahnya yang putih. (more…)

May 29, 2008

MeNaRa GaDiNg

Filed under: CerBung

   Bagian II

 

    Sudah pukul Sembilan malam, tapi rasa kantuk tak jua muncul, aku membongkar album foto-foto ketika aku SMA dulu. Dalam setiap kesempatan dimana ada fotoku, pasti Dicky disebelahnya. Keriangan nampak di wajah kami berdua. Dulu, bermimpi pun tidak, kalau aku akan berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan. Perlu waktu beberapa tahun untuk melupakannya, entah berapa malam yang penuh dengan air mata karena kepergiannya.     

        Dicky adalah kakak kelasku ketika SMA dulu, aku kelas satu, dia kelas tiga. Aku pacaran dengannya tepat setelah  enam bulan aku duduk di bangku kelas satu. Dia selalu membantuku dalam setiap pelajaran, dia selalu melindungiku, kalau ada yang berusaha menggangguku. Jadilah aku begitu tergantung padanya, kadang untuk memutuskan segala sesuatu aku selalu minta pendapatnya.

         Gaya pacaran kami waktu itu memang berbeda dengan remaja kebanyakan, kami berdua lebih menyukai toko buku atau perpustakaan. Jadi malam minggu sering kali menghabiskan waktu di rumah yang kita bicarakan tentang buku-buku yang kita baca, mulai dari novel-novel ringan, sampai buku-buku yang bersifat ilmiah, nonton pun kita jarang ke bioskop, kita seringkali nonton di rumah, paling selama lima tahun pacaran hanya dua atau tiga kali ke bioskop itu pun pergi rombongan, dengan teman-teman atau kedua kakakku.

         Hari-hari yang kami lalui seolah tak terpisahkan, Setelah kuliah pun rutinitas itu tak berubah. Hingga suatu hari dia tidak kunjung menjemputku, kebetulan aku dan Dicky kuliah di Universitas yang sama, hanya jurusannya saja yang berbeda. Akhirnya aku pergi dengan kakakku, Nanda. Di kampus kucoba mencarinya tapi tak kunjung kutemui. Aku coba telepon ke HPnya tidak aktif, aku coba telepon ke rumahnya tak seorang pun yang mengangkat teleponku. Tidak biasanya seperti ini, kalau pun ada halangan dia pasti mengabariku.

         Sampai di rumah, semua orang tampak gembira, aku berusaha menyembunyikan galau dalam hatiku, rupanya kakak keduaku di terima kerja di Free Port. Lengkap sudah kesunyianku, pertama kakak sulungku Manda kerja di Jakarta, Dicky tak tau rimbanya, kini kak Nanda pun ikut pergi.

         Melihat aku termenung, kakakku berujar, “rupanya ada yang gak seneng nih, aku  diterima kerja.” semua mata memandangku, “nggak kok, aku seneng kakak dapat kerjaan, tapi kanapa harus ke tempat yang jauh.”

“yah …, mungkin disitulah rezeki kakakmu.”

“ Dimana pun kakakmu kerja, nggak apa-apa, asal memberikan kebaikan buat kita semua.”  “Bukankah jarak bukan halangan, ada telepon, terus kalau ada waktu bisa pulang,” Ujar ayahku bijaksana.

“Oh… ya, Dicky kemana?”

“Kok hari ini nggak kelihatan?”

“Dia lagi sibuk, aku yang memintanya agar tak menjemput,” ujarku berbohong.

“Baguslah, kamu harus belajar sendiri, supaya tidak terlalu tergantung pada orang lain,” Ujar ayahku lagi.

“Ya udah, kamu istirahat dulu,” ibuku menimpali.

Aku tidak menjawab, langsung masuk ke kamarku. Ayahku benar selama ini aku begitu tergantung pada Dicky, kini baru sehari aku tidak bertemu dan tidak mendapat kabar darinya, kurasakan seperti berpuluh tahun lamanya. Kucoba lagi menelepon Dicky, hasilnya sama seperti tadi.

         Esoknya di kampus tidak ada, kuberanikan diri mendatangi rumahnya, kutemui rumah yang terkunci, tanpa penghuni. Ku Tanya teman-temannya tak ada yang tahu. Di tengah keputus asaan kudatangi jurusan tempat dia kuliah, kutanyakan kebagian administrasi. Jawaban yang tak kusangka. Sudah seminggu yang lalu dia minta surat keterangan cuti kuliah, aku pergi tanpa mengucapkan terima kasih, pada petugas yang berbaik hati memberikan informasi.

         Segala rasa memenuhi dadaku, hari itu aku tidak mengikuti kuliah, aku pergi ke toko buku, perpustakaan dan tempat-tempat yang biasa kami kunjungi, aku masih berharap menemukan Dicky, walaupun hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. (more…)

May 28, 2008

MeNaRa Gading

Filed under: CerBung

 

Bagian I,

      Hari ini udara terasa panas, matahari tak ramah menyinari bumi, tapi aku terus memacu mobilku, menerobos jalanan.  AC mobil yang rusak dan  tak sempat ku perbaiki menambah panasnya udara di dalam mobil.  Aku buka sedikit kaca jendela mobilku, perlahan angin masuk mengurangi rasa pengap yang mulai kurasakan.  Sampai di depan  BCA, perlahan ku parkir mobilku, hari ini aku  ada tugas yang berurusan dengan Bank, selain itu aku pun perlu uang tunai untuk membeli beberapa keperluanku. Kulirik jam di tanganku masih ada empat puluh menit waktu istirahat kantorku.  Aku bisa mampir  dulu ke rumah makan untuk makan siang. Aku sudah bosan dengan makanan yang tersedia di kantor,  menunya bervariasi tapi rasanya tetap sama.

        Pas pukul tiga belas aku sampai ke kantorku di jalan Industri, aku parkir mobilku, perlahan aku masuk ke ruangan kantorku. Di koridor aku berpapasan dengan Bosku, Pak Thio, sepupu dari sahabatku Vivian, sekaligus anak pemilik perusahaan tempatku bekerja. Dia menyapaku dengan senyum manisnya. Bosku orangnya ganteng, kulitnya putih campuran pribumi dan Chines, badannya tinggi proporsional, baik terhadap karyawan terutama terhadapku, itu kata temen-temen sekantorku, walaupun menurutku dia baik pada semua orang.

Dia menyapaku, “dari mana ?“  

“Dari Bank,” kujawab pendek, terus terang aku merasa kikuk kalau berhadapan dengan dia, walaupun aku sudah lama mengenalnya.

 “Ooh,” jawabnya, tak kalah pendek.

 “ Sudah makan. “ 

“Sudah tadi sekalian di luar,”

“Ya udah aku masuk dulu,  jangan lupa meeting nanti siang pukul: 14.00.“Ujarnya, sambil berlalu dari hadapanku.

        Aku kembali ke meja  kerjaku, menyiapkan file-file penting untuk meeting  yang tinggal beberapa menit lagi.  Meeting kali ini akan membahas perluasan perusahaan dan pembelian beberapa mesin tekstil, yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, yang pasti meeting kali ini akan memakan waktu yang panjang.

         Meeting selesai pas pukul: 17.05. Hari yang melelahkan menurutku. Aku kembali ke meja kerjaku dan bersiap-siap untuk pulang. Teman-temanku sudah berhamburan pulang, dengan langkah malas kulangkahkan ke tempat parkir, sudah dipastikan jalanan pasti macet, apalagi jalan menuju rumahku, aku harus melewati beberapa ruas jalan yang selalu macet, pertama di perlintasan kereta api, yang kedua pas menuju komplek rumahku, dekat pabrik Kahatex itu langganan macet, apalagi jam-jam bubaran kantor seperti ini.

         Sampai di rumah hampir pukul enam, aku istirahat sebentar, mandi, sholat maghrib. Sambil makan malam aku ngobrol dengan kedua orang tuaku, kebetulan kedua kakakku bekerja di luar kota. Kakak sulungku perempuan, bekerja di Jakarta, kakakku yang kedua bekerja di tanah Papua (Free port). Jadilah kami bertiga di rumah ini. Biasanya obrolan kami seputar kejadian-kejadian sepanjang hari. Ayahku seorang dosen di sebuah Perguruan Tinggi swasta di Bandung, sedangkan ibuku seorang guru SD di daerah kami. Ayahku beberapa tahun lagi pensiun. Kadang aku merasa kasihan juga pada orang tuaku, walaupun anak-anaknya sudah hidup berkecukupan,  ketiga anaknya belum menikah. Mungkin sebagai anak bungsu aku tidak terlalu terbebani, tapi kedua kakakku, apalagi yang sulung perempuan. Sepertinya kami terlalu asyik dengan dunia kerja sehingga melupakan bahwa yang diharapkan kedua orang tuaku  selain sukses di dunia kerja juga dapat hidup berumah tangga seperti yang lain. (more…)

May 12, 2008

SeTeLaH UjIaN NaSiOnAl UsAi

Filed under: Diary

Hari kamis tanggal 8 Mei Ujian Nasional berakhir, setelah ngawas aku langsung ke sekolah asalku, kangen juga sama sekolah dan teman-teman yang kebetulan ngawas di sekolah yang berbeda-beda. Rencananya hari sabtu kami akan pergi ke Pangalengan, refresing, nah hari kamis, kami  lima sekawan ( nggak tau siapa anjingnya …he he he , yang jelas yang paling doyan tulang ) pergi jalan-jalan, kalo aku sih ditodong sehabis pemantapan, dikenai pajak oleh empat orang temanku untuk makan di luar. Akhirnya kami sepakat pergi ke PB untuk mencari kaos yang pas dan mecing untuk pergi ke Pangalengan, setengah hari kami keliling dengan keinginan yang beda-beda, Aku sibuk cari kerudung abu-abu, Dini yang terobsesi dengan kerudung biru dongker, Teh Ela …yang super sibuk segala diliat dan dicoba, Nety sama Erna yang ngotot ingin ke Rabbani. Akhirnya kami dapat lima kaos warna putih untuk dipakai hari Sabtu. Kami sepakat untuk memakai celana jeans biru dan kaos warna putih. Jumat siang aku dapat SMS dari Diny, perubahan kostum, kita pakai trening kaos bebas, kaos putih dan jeans untuk pulang, ku jawab singkat "ok". Sore hari Nety SMS konfirmasi kostum,sambil mengeluh gak ada trening, sambil minta tolong pinjem trening, kujawab ya besok aku bawa trening buat dia. Akhirnya kita sepakat memakai trening dan kaos yang kebetulan aku dan Nety memiliki kaos yang sama. kaos putih untuk pulang saja. Sabtu pagi aku bangun agak kesiangan, buru-buru aku mandi, sholat, dan berpakaian, ku ambil hp ada SMS dari Erna isinya "kita pakai kaos putih dan jeans, Ok. waah gimana nih padahal aku dah rapi, tiba tiba telepon berdering kuangkat, Diny telepon sama bingungnya dengan aku ,soal kostum, akhirnya sepakat kostum awal celana jeans dan kaos putih. Aku ganti baju lagi ….Nah itu yang membuatku kesiangan sampai di sekolah ( lagi pula aku ke ibu tiri dulu….ATM,istilah yang diberikan temenku Boby dan Asean kalo kita ngambil uang di ATM ) Aku datang ke sekolah semua udah siap berangkat, semua pada ngomel karena aku kesiangan, kutanggapi aja dengan senyum termanisku ( he he he …..), aku duduk di sebelah Teh Ela, Nety berbisik " Nia : udah liat baju bu Reni …salah kostum dia " aku celingukan cari bu Reni yang suka pake kostum yang aneh belum keliatan, Pas bu Reni berdiri kontan aku ketawa….( maaf ya bu !). Itu kostum sastrawan sesungguhnya. jawabku, Diiringi tawa yang lain. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham