Bagian II
Sudah pukul Sembilan malam, tapi rasa kantuk tak jua muncul, aku membongkar album foto-foto ketika aku SMA dulu. Dalam setiap kesempatan dimana ada fotoku, pasti Dicky disebelahnya. Keriangan nampak di wajah kami berdua. Dulu, bermimpi pun tidak, kalau aku akan berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan. Perlu waktu beberapa tahun untuk melupakannya, entah berapa malam yang penuh dengan air mata karena kepergiannya.
Dicky adalah kakak kelasku ketika SMA dulu, aku kelas satu, dia kelas tiga. Aku pacaran dengannya tepat setelah enam bulan aku duduk di bangku kelas satu. Dia selalu membantuku dalam setiap pelajaran, dia selalu melindungiku, kalau ada yang berusaha menggangguku. Jadilah aku begitu tergantung padanya, kadang untuk memutuskan segala sesuatu aku selalu minta pendapatnya.
Gaya pacaran kami waktu itu memang berbeda dengan remaja kebanyakan, kami berdua lebih menyukai toko buku atau perpustakaan. Jadi malam minggu sering kali menghabiskan waktu di rumah yang kita bicarakan tentang buku-buku yang kita baca, mulai dari novel-novel ringan, sampai buku-buku yang bersifat ilmiah, nonton pun kita jarang ke bioskop, kita seringkali nonton di rumah, paling selama lima tahun pacaran hanya dua atau tiga kali ke bioskop itu pun pergi rombongan, dengan teman-teman atau kedua kakakku.
Hari-hari yang kami lalui seolah tak terpisahkan, Setelah kuliah pun rutinitas itu tak berubah. Hingga suatu hari dia tidak kunjung menjemputku, kebetulan aku dan Dicky kuliah di Universitas yang sama, hanya jurusannya saja yang berbeda. Akhirnya aku pergi dengan kakakku, Nanda. Di kampus kucoba mencarinya tapi tak kunjung kutemui. Aku coba telepon ke HPnya tidak aktif, aku coba telepon ke rumahnya tak seorang pun yang mengangkat teleponku. Tidak biasanya seperti ini, kalau pun ada halangan dia pasti mengabariku.
Sampai di rumah, semua orang tampak gembira, aku berusaha menyembunyikan galau dalam hatiku, rupanya kakak keduaku di terima kerja di Free Port. Lengkap sudah kesunyianku, pertama kakak sulungku Manda kerja di Jakarta, Dicky tak tau rimbanya, kini kak Nanda pun ikut pergi.
Melihat aku termenung, kakakku berujar, “rupanya ada yang gak seneng nih, aku diterima kerja.” semua mata memandangku, “nggak kok, aku seneng kakak dapat kerjaan, tapi kanapa harus ke tempat yang jauh.”
“yah …, mungkin disitulah rezeki kakakmu.”
“ Dimana pun kakakmu kerja, nggak apa-apa, asal memberikan kebaikan buat kita semua.” “Bukankah jarak bukan halangan, ada telepon, terus kalau ada waktu bisa pulang,” Ujar ayahku bijaksana.
“Oh… ya, Dicky kemana?”
“Kok hari ini nggak kelihatan?”
“Dia lagi sibuk, aku yang memintanya agar tak menjemput,” ujarku berbohong.
“Baguslah, kamu harus belajar sendiri, supaya tidak terlalu tergantung pada orang lain,” Ujar ayahku lagi.
“Ya udah, kamu istirahat dulu,” ibuku menimpali.
Aku tidak menjawab, langsung masuk ke kamarku. Ayahku benar selama ini aku begitu tergantung pada Dicky, kini baru sehari aku tidak bertemu dan tidak mendapat kabar darinya, kurasakan seperti berpuluh tahun lamanya. Kucoba lagi menelepon Dicky, hasilnya sama seperti tadi.
Esoknya di kampus tidak ada, kuberanikan diri mendatangi rumahnya, kutemui rumah yang terkunci, tanpa penghuni. Ku Tanya teman-temannya tak ada yang tahu. Di tengah keputus asaan kudatangi jurusan tempat dia kuliah, kutanyakan kebagian administrasi. Jawaban yang tak kusangka. Sudah seminggu yang lalu dia minta surat keterangan cuti kuliah, aku pergi tanpa mengucapkan terima kasih, pada petugas yang berbaik hati memberikan informasi.
Segala rasa memenuhi dadaku, hari itu aku tidak mengikuti kuliah, aku pergi ke toko buku, perpustakaan dan tempat-tempat yang biasa kami kunjungi, aku masih berharap menemukan Dicky, walaupun hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. (more…)