MeNaRa Gading
Hari ini udara terasa panas, matahari tak ramah menyinari bumi, tapi aku terus memacu mobilku, menerobos jalanan. AC mobil yang rusak dan tak sempat ku perbaiki menambah panasnya udara di dalam mobil. Aku buka sedikit kaca jendela mobilku, perlahan angin masuk mengurangi rasa pengap yang mulai kurasakan. Sampai di depan BCA, perlahan ku parkir mobilku, hari ini aku ada tugas yang berurusan dengan Bank, selain itu aku pun perlu uang tunai untuk membeli beberapa keperluanku. Kulirik jam di tanganku masih ada empat puluh menit waktu istirahat kantorku. Aku bisa mampir dulu ke rumah makan untuk makan siang. Aku sudah bosan dengan makanan yang tersedia di kantor, menunya bervariasi tapi rasanya tetap sama.
Pas pukul tiga belas aku sampai ke kantorku di jalan Industri, aku parkir mobilku, perlahan aku masuk ke ruangan kantorku. Di koridor aku berpapasan dengan Bosku, Pak Thio, sepupu dari sahabatku Vivian, sekaligus anak pemilik perusahaan tempatku bekerja. Dia menyapaku dengan senyum manisnya. Bosku orangnya ganteng, kulitnya putih campuran pribumi dan Chines, badannya tinggi proporsional, baik terhadap karyawan terutama terhadapku, itu kata temen-temen sekantorku, walaupun menurutku dia baik pada semua orang.
Dia menyapaku, “dari mana ?“
“Dari Bank,” kujawab pendek, terus terang aku merasa kikuk kalau berhadapan dengan dia, walaupun aku sudah lama mengenalnya.
“Ooh,” jawabnya, tak kalah pendek.
“ Sudah makan. “
“Sudah tadi sekalian di luar,”
“Ya udah aku masuk dulu, jangan lupa meeting nanti siang pukul: 14.00.“Ujarnya, sambil berlalu dari hadapanku.
Aku kembali ke meja kerjaku, menyiapkan file-file penting untuk meeting yang tinggal beberapa menit lagi. Meeting kali ini akan membahas perluasan perusahaan dan pembelian beberapa mesin tekstil, yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, yang pasti meeting kali ini akan memakan waktu yang panjang.
Meeting selesai pas pukul: 17.05. Hari yang melelahkan menurutku. Aku kembali ke meja kerjaku dan bersiap-siap untuk pulang. Teman-temanku sudah berhamburan pulang, dengan langkah malas kulangkahkan ke tempat parkir, sudah dipastikan jalanan pasti macet, apalagi jalan menuju rumahku, aku harus melewati beberapa ruas jalan yang selalu macet, pertama di perlintasan kereta api, yang kedua pas menuju komplek rumahku, dekat pabrik Kahatex itu langganan macet, apalagi jam-jam bubaran kantor seperti ini.
Sampai di rumah hampir pukul enam, aku istirahat sebentar, mandi, sholat maghrib. Sambil makan malam aku ngobrol dengan kedua orang tuaku, kebetulan kedua kakakku bekerja di luar kota. Kakak sulungku perempuan, bekerja di Jakarta, kakakku yang kedua bekerja di tanah Papua (Free port). Jadilah kami bertiga di rumah ini. Biasanya obrolan kami seputar kejadian-kejadian sepanjang hari. Ayahku seorang dosen di sebuah Perguruan Tinggi swasta di Bandung, sedangkan ibuku seorang guru SD di daerah kami. Ayahku beberapa tahun lagi pensiun. Kadang aku merasa kasihan juga pada orang tuaku, walaupun anak-anaknya sudah hidup berkecukupan, ketiga anaknya belum menikah. Mungkin sebagai anak bungsu aku tidak terlalu terbebani, tapi kedua kakakku, apalagi yang sulung perempuan. Sepertinya kami terlalu asyik dengan dunia kerja sehingga melupakan bahwa yang diharapkan kedua orang tuaku selain sukses di dunia kerja juga dapat hidup berumah tangga seperti yang lain.
Aku masuk kamarku ketika ku dengar suara hpku berbunyi, Ku ambil dan kuperhatikan siapa yang nelepon. Wah Bosku nelepon “ada apa nih”, pikirku. Kuangkat telepon.
“ Halo! selamat malam. “
“Malam” Jawabnya.
“Apakah aku mengganggu. “
“Oooh tidak, ada apa yah Pak.”
“Nggak apa-apa , tiba-tiba aja aku pengin nelpon kamu aja, apa kabar?”
“Baik,” jawabku heran, bukankah tadi siang aku bertemu dengan dia, kenapa dia bertanya kabarku? Aku terdiam, kaget, dan tidak menyangka dengan apa yang barusan aku dengar.
“Lho kok diem, ya udah, sampai bertemu besok di kantor yah, daag”,
Klik suara telepon dimatikan. Aku cubit tanganku sendiri, apakah aku sedang bermimpi? ada apa dengan bosku? atau jangan-jangan dia salah orang, ya mungkin dia salah orang. Kupaksakan tidur, walau terus terang sangat sulit, kata-kata bosku masih terngiang di telingaku.
Besoknya aku pergi ke kantor dengan sedikit terlambat, semalaman tidak bisa tidur, akhirnya bangun kesiangan. Aku masuk dan duduk di meja kerjaku, baru saja kunyalakan komputer, Pak Thio, bosku berdiri disampingku sambil berkata.
“Maaf semalam mengganggu, nanti pas jam makan siang tolong temui aku, ada hal yang ingin kusampaikan”.
Belum sempat aku menjawab, dia sudah pergi dan masuk ke ruangannya. Tinggal aku yang bengong. Tiba-tiba Vivian sahabatku menghampiri.
“Ada apa? Barusan Pak Thio ngomong apa? “
“Nggak apa-apa jawabku, cuman nanti siang aku diminta menghubunginya.
“Waah asyik banget, kayaknya bakal ada cerita seru nih”.
Aku hanya tersenyum, Vivian memang orang yang paling getol menjodohkan aku dengan Pak Thio. Dia selalu meyakinkan aku, kalau Pak Thio itu naksir aku. Walau dalam hati kecilku aku tidak mau menampiknya tapi akal sehatku selalu berkata, tidak mungkin dan tidak boleh, terlalu banyak perbedaan diantara kami, mulai dari keyakinan, etnis, dan latar belakang keluarga yang sangat jauh berbeda. Bagiku, pak Thio adalah menara gading yang tak mungkin ku sentuh.
Hari ini kerjaku tidak biasanya, saat ini aku sulit untuk konsentrasi, aku lebih banyak memikirkan hal lain. Memikirkan tentang pesan Pak Thio, padahal aku sering bertemu dengan dia di luar jam kerja, mengingat kedekatanku dengan Vivian.
“ Hai, melamun “ aku kaget tiba-tiba Vivian berdiri dihadapanku.
“Tuh, Bos manggil “ belum sempat aku menjawab Vivian kembali berujar.
Kulirik jam di pergelangan tanganku jam menunjukkan pukul, 11.30.
Ku pandang Vivian sambil tersenyum. “ Thank`s yah.”
“Eeeit … ,” Vivian menarik tanganku.
“ Jangan lupa laporannya ditunggu ,“ ujarnya sambil tertawa.
“ Ok, tenang aja, “ jawabku.
Ku ketuk ruangan kerja pak Tio, terdengar suara. “Masuk,”
Aku masuk dengan hati yang berdebar.
“Kita makan di luar,” ujarnya sambil berjalan ke luar. Aku mengikutinya seperti kerbau di cocok hidung, kuikuti tanpa suara.
Mobil melaju perlahan, aku duduk di samping pak Thio tanpa bersuara. Pak Thio menekan tombol musik, terdengar suara khas Stevie B, melantunkan lagu Waiting For Your Love.
“How can I explain the sorrow and my pain
I believe that you and I
should be together once againt
Every night I pray,
That You“ ll come back to me
But the tears keep falling down my face
when you`re not arround
And I know you`re gone, gone away
All I do is wait for you each and every day
And I know you`re gone, gone away
All I do is wait for you each and every day
Ooh I m waiting for your love
I m wondering where you are
are you with another guy
are you showing him your world
I m waiting your love
I wanna see your smile
brighten up my day
Yes I m waiting for your love
…………………………………………
………………………………………….”
Aku terhanyut dalam lamunan, begitu pun Pak Thio, sepertinya dia pun terhanyut dengan musik yang mengiringi perjalanan kami. Sesampai di Istana Plaza, Pak Thio membelokkan mobilnya, setelah memarkir mobilnya, Pak Thio tidak langsung turun tapi dia bertanya.
“Kamu mau makan apa ?”
“Terserah bapak saja “
“Lho kok terserah, gimana kalo aku pilih makanan yang ternyata tidak kamu suka,” ujarnya sambil tersenyum.
“Asal jangan yang beracun saja,” ujarku berseloroh.
“Ha ha ha ha” terdengar tawa lepas Pak Thio,
“Wah, sayang sekali kalau perempuan secantik kamu diracun.” Aku tertawa diiringi tawa lepas Pak Thio.
“Gimana kalo kita makan Pizza saja.”
Aku hanya menggangguk tanda setuju.
Aku duduk berhadapan dengan Pak Thio, terus terang aku merasa kikuk, dan hatiku tak henti berdebar.
“Kamu tahu kan ! Perusahaan kita sedang berkembang, dan rencana perusahaan untuk membeli mesin-mesin yang baru.” Ujar Pak Thio membuka pembicaraan. Aku hanya menganggukkan kepala.
“Mungkin bulan depan, kalau tidak ada halangan aku harus berangkat ke Jerman dan Swiss, untuk melihat mesin Tekstil, kalau ada yang cocok mungkin perusahaan kita akan membelinya dari sana.” Sambil berbicara Pak Thio selalu memandangku, dan aku lebih banyak menundukkan kepala, sambil sesekali memandang keluar, terus terang aku tidak berani melawan tatapannya.
“Sebelum aku pergi, aku ingin kau tahu, kalau aku menyukaimu sejak dulu, mungkin kamu tidak tahu kalau aku sering berharap suatu saat kelak aku bisa menjalani hari-hariku denganmu.
Aku berharap suatu saat kelak kau menjadi istriku, bagaimana kau mau menjadi istriku ?”
Ya . . . Alloh, sebuah pertanyaan yang tak kuduga, walau kata itu pernah singgah dalam setiap khayalku, tapi tidak saat ini, aku betul-betul tidak siap. Melihat aku terdiam, tiba-tiba Pak Thio meraih tanganku, sambil berujar, “kamu tidak perlu menjawabnya saat ini” “pikirkan dan pertimbangkanlah.”
“Terima kasih Pak, terus terang aku tidak bisa menjawab saat ini, pertanyaan Bapak tidak pernah saya duga.”
Obrolan terhenti karena pelayan datang sambil membawa pesanan kami.
“Oh … ya, tolong jangan panggil aku Bapak.” “Kamu bisa panggil aku Koko seperti Vivian memanggilku atau cukup Thio juga gak apa-apa, , bukankah dulu juga kau panggil aku Koko.”
“Iya Pak,”duuh betapa sulitnya aku memanggil Pak Thio dengan panggilan Koko, padahal dulu, sebelum aku bekerja di perusahaannya, aku tak pernah kikuk berhadapan dengannya, aku sering main ke rumah Vivian dan sering bertemu dengan dia. sering ngobrol, bercanda, bahkan kami; aku, Vivian, Pak Thio dan beberapa saudaranya pernah menghabiskan malam tahun baru di Lembang.
Aku dan Vivian bersahabat sejak kami masuk kuliah, aku begitu dekat dengan keluarga Vivian ,begitu pun Vivian sangat dekat dengan keluargaku. Pak Thio usianya lima tahun diatas aku dan Vivian. Dulu kami biasa memanggil Koko Iyo. Dia kuliah di Jerman, setahun sekali dia datang ke Indonesia. Waktu libur itulah kami sering bertemu, Vivian bagiku seperti saudara, walaupun diantara kami begitu banyak perbedaan tapi kami saling menghargai perbedaan itu.
Aku bekerja di perusahaan Pak Thio juga karena ajakan Vivian. Hampir dua tahun aku bekerja di perusahaannya, keakraban yang kami miliki dulu perlahan hilang, tergantikan oleh formalitas yang sebenarnya tak kuharapkan. Tapi aku lakukan semua itu untuk menjaga wibawa Pak Thio di hadapan karyawan yang lain.
“Hai ….kok melamun.”
Aku kaget, “ oooh nggak kok.”
“Apa sih yang kamu lamunkan,” aku hanya tersenyum.
“Aku teringat bagaimana kita dulu.”
“Oh ..ya ! kamu masih ingat? waktu itu kita habiskan malam tahun baru di Lembang.”
Aku menganggukan kepalaku, “waktu itu asmaku kumat, karena tak tahan dinginnya Lembang.”
“Kamu tahu?…. kamu membuat panik kami semua, dan sejak itu kita kapok untuk mengadakan acara apa pun di Lembang apalagi malam hari.”
“Ya … gara-gara aku, tahun berikutnya kita adakan Tahun Baru cukup di rumah.”
“Kamu jangan ngerasa salah gitu dong, walaupun di rumah tapi cukup berkesan.”
“Kita bakar jagung, tapi tak ada satu pun jagung yang dapat kita makan, jagungnya gosong, kemudian kita bakar ikan, gosong juga.”
“Akhirnya kita makan Pop mie,” ujarku diiringi derai tawa Pak Thio.
“Kamu tahu apa yang kupikirkan saat itu?” aku menggelengkan kepala.
“Ternyata tiga orang perempuan tidak bisa menjamin perut dua orang laki-laki.”
Waktu itu Jean adik perempuan Pak Thio, dan adik bungsunya Thian hadir diantara kami, aku Pak Thio dan Vivian.
Kulirik jam dipergelangan tanganku, jam hampir menunjukkan pukul: 12. 45.
“Kita pulang, oh… ya kamu mau sholat dulu?”
“Nanti aja di kantor,” ujarku.
“Tentang pertanyaan tadi, kamu masih banyak waktu untuk, menimbang dan memikirkannya, mudah-mudahan jawabanmu memberikan kebaikan bagi kita berdua.”
Aku hanya menganggukkan kepala, tanda setuju.
Sampai di kantor pukul: 13.15 aku langsung menuju meja kerjaku, ku simpan tas, aku ambil mukena dari laci mejaku dan menuju mushola kecil di kantorku untuk melaksanakan sholat zuhur.
Hari ini pekerjaan lumayan banyak, banyak data yang harus ku masukkan ke Komputer dan memeriksa email-email yang masuk. Lumayan banyak email yang masuk hari ini, kebanyakan email tersebut berhubungan dengan rencana pembelian mesin tekstil. Tapi aku tertegun dengan sebuah email yang masuk. Sepertinya aku mengenal nama itu, perlahan kubuka dengan hati berdebar, pengirimnya dicky@yahoo.co.id isinya sangat singkat, dia menanyakan kabarku, kuliahku, juga dia bertanya apakah aku sudah bekerja?
“Kalau kerja jangan bengong aja,” kulirik Vivian berdiri di depan mejaku, cepat-cepat kututup email tadi.
“Jangan sembarang nuduh, aku lagi kerja nih,” ujarku sambil tersenyum.
“Oh … ya, gimana makan siangnya?”
“Kami makan pizza di Istana Plaza, setelah itu kita pulang, laporan selesai!”
“Ha ha ha . . . .aku tidak mau tau apa yang kau makan Nona ! tapi aku ingin tau apa yang kamu bicarakan.” kelakarnya.
“Tuan putri mau tahu?” tanyaku dengan mimik kubuat seserius mungkin, “ tentu saja,” ujarnya.
“ Tuan putri bisa tanyakan langsung pada Tuan muda,” ujarku menggodanya.
Kulihat Vivian cemberut, aku senang berhasil menggodanya.
“Udah jangan cemberut, ntar aku ceritakan, tapi ada syaratnya, kamu harus antar aku pulang.”
“Lho emang kamu nggak bawa mobil?”
“Nggak, kemarin mobilku masuk bengkel, AC-nya rusak sekalian servis.”
“Ok …apa sih yang enggak buat kamu.” Tiba-tiba terdengar suara memanggil, “Vivian” kontan kami berdua melirik ke arah suara itu, kulihat Pak Thio berdiri di depan pintu ruang kerjanya sambil melambai kepada Vivian.
“Aku menghadap Boss dulu nih,” ujarnya sambil berlalu.
Aku kembali ke komputerku, kubuka kembali email yang membuat aku sedikit berdebar, tapi aku tidak berniat untuk membalasnya, karena aku bingung, perlu waktu untuk menata perasaanku. Di saat aku berhasil melupakannya, tiba-tiba dia muncul, membuka lembar demi lembar perjalanan yang pernah kami lalui.
“Hai,” lagi-lagi Vivian membuyarkan lamunanku.
“Tuh ! …Tuan Muda ingin mengantarmu pulang,Kalau kau nggak keberatan,”
“Maaf yah Ra ! aku nggak bisa nganterin,” Ujar Vivian sambil tersenyum, senyum kemenangan, karena aku tau, itulah keinginan Vivian dari dulu.
“Tapi kita kan nggak satu arah,” ujarku, rasanya nggak enak, kalo dia sengaja mengantarku apalagi sekarang waktunya macet.
“Nggak kok, kebetulan aku juga ada perlu ke Taman Holis.”
Akhirnya aku pulang diantar Pak Thio. lama- lama aku terbiasa juga memanggil dia seperti aku memanggilnya dulu, kelihatan sekali dia sangat senang, banyak hal yang dia ceritakan, biasanya macet membuatku kesal, hari ini malah aku bersyukur karena macet, waktu perjalanan semakin panjang.
Sesampai di rumah dia nggak langsung pulang, tapi ngobrol sebentar dengan kedua orang tuaku . Setelah azan magrib berkumandang, barulah dia berpamitan pulang. Bersambung ….
Membaca cerita ini serasa sedang menikmati teh hangat ditambah cemilan kacang-kacangan di sore hari. Ringan dan santai. Atau seperti memandang sungai jernih yang airnya mengalir lancar tanpa hambatan. Selamat untuk karya pertama anda yang cukup indah untaian kalimatnya.
Comment by pop_ice — May 29, 2008 @ 6:35 am