Nia dan Coretannya

June 2, 2008

MeNaRa GaDiNg

Filed under: Diary

 

 

Bagian III

    Sudah seminggu Pak Thio berada di Jerman, walaupun begitu, aku tidak merasa kehilangan, karena setiap ada kesempatan Pak Thio selalu memberikan kabar lewat SMS. Aku kembali mendapatkan sebuah email dari Dicky, aku ragu untuk membukanya. Tapi akhirnya kubuka juga email tersebut. Dear Ira Yuni Mungkin aku terlalu percaya diri, aku begitu yakin kau akan membalas setiap email yang kukirim. Ternyata hampir sebulan lebih bahkan sekarang sudah bulan kedua, kau tak kunjung membalas. Aku pun berpikir, mungkinkah kau sudah tak sendiri??? atau ada seseorang yang begitu lancang menggantikan posisiku, maafkan aku menyebutnya lancang, karena aku belum bisa menerima hal itu. Yang merindukanmu, Dicky Tiba-tiba tanganku refleks meripley email tersebut. To : Dicky Aku memiliki hak untuk tidak membalas email-email yang kau kirimkan, seperti kau pun punya hak untuk meninggalkan aku, kapan pun kau mau, dan aku pun punya hak untuk tidak menjelaskan, seperti kau pergi tanpa penjelasan. Salam, Ira Yuni Email sudah terkirim, tiba-tiba ada perasaan sakit dalam hatiku, kupikir betapa egoisnya dia, datang dan pergi seenak hatinya. Tiba-tiba Hpku berbunyi ada SMS masuk dari Pak Thio, isinya menanyakan apakah aku sudah makan atau belum? Kulirik jam dipergelangan tanganku pukul dua belas lebih lima menit, Pak Thio selalu memperhatikan aku setiap saat walau hanya lewat SMS, tapi aku sangat senang, dan semakin meneguhkan aku untuk mengubur nama Dicky dari kehidupanku. Aku balas SMS-nya sambil menanyakan keadaannya, dan berpesan supaya menjaga diri selama di negeri orang. Tak terasa sudah dua minggu Pak Thio berada di Jerman, hari ini rencananya dia pulang bersama rekannya dari Jerman, seorang teknisi mesin tekstil. Tiba-tiba kerinduan menyelinap dalam hatiku, hari ini jarum jam merambat begitu lama sekali. Aku tak kan bisa bertemu Pak Thio hari ini, dia sampai di Jakarta pukul tiga sore, paling aku bisa bertemu dia besok pagi di kantor. Pukul delapan malam Pak Thio datang ke rumahku, aku kaget sekaligus senang. Ternyata Pak Thio belum ke rumahnya setelah mengantar rekannya ke sebuah hotel, dia langsung ke rumahku. Dia memberiku oleh-oleh sebuah jam tangan Tissot dari kayu berwarna coklat dengan tali dari kulit berwarna coklat pula, jam tersebut unik dan cantik sekali menurutku, didalamnya ada gambar tiga ekor rusa dan dua buah pohon cemara berwarna keemasan, jarum jam berwarna keemasan pula. Dia juga memberikan sweater buat kedua orang tuaku ditambah lagi beberapa keping coklat. Orang tuaku mengucapkan terima kasih dan sangat senang sekali dengan oleh-oleh tersebut. Pukul Sembilan Pak Thio pamit pulang itu pun aku yang menyarankan dia pulang, aku merasa kasihan karena kelelahan begitu nampak di wajahnya yang putih. Pak Thio sudah pulang, ayah dan ibuku masih duduk di ruang keluarga, aku menghampiri mereka, ayahku memberi tanda supaya aku duduk dekat dengannya. Aku bisa menerka apa yang akan ditanyakan orang tuaku, pasti ada hubungannya dengan Pak Thio. Sudah saatnya aku berterus terang pada orang tuaku tentang hubunganku dengan Pak Thio. “Ra ! Ayah perhatikan akhir-akhir ini kau begitu dekat dengan Pak Thio,dia sering kesini menjemputmu, kemudian ayah dengar tadi, dia belum pulang ke rumahnya tapi langsung kesini,benar nggak Ra !” Aku menganggukan kepala mengiyakan apa yang diucapkan ayahku. “Apakah dia menyukaimu atau sudah menjadi pacarmu?” Aku kembali menganggukan kepala tak mampu menjawab dengan kata-kata. “Apakah kau mencintainya ?” lanjut ayahku. “Ayah tak ingin peristiwa dulu terulang lagi, terus apakah kau sudah pikirkan perbedaan diantara kalian, terutama masalah keyakinan.” Aku tetap diam tak memiliki jawaban. Ku akui aku menerima cintanya Pak Thio tanpa pertimbangan apa-apa, tiba-tiba saja aku menerimanya, di perjalanan disaat macet, bukan di tempat-tempat romantis seperti pasangan lain. Saat itu aku tidak memikirkan perbedaan-perbedaan diantara kami. Mungkin itu yang dinamakan cinta buta, tidak memikirkan hal yang lain yang terpenting saat itu rasa suka yang muncul dalam hatiku. Keinginanku untuk mengubur nama Dicky di tempat paling dalam, walau jujur saja aku terusik dengan beberapa email yang dia kirimkan. “Maafkan ayah, jika perkataan ayah tadi mengganggumu,” ujar ayah. Aku berusaha tersenyum, “nggak apa-apa kok, lagi pula ayah benar, aku menerima cintanya Pak Thio tanpa pertimbangan apa-apa. “ “Aku mencintainya ayah, entahlah hanya dia yang mampu membuat aku melupakan Dicky.” Ujarku. “Tapi …. Ra! walau bagaimanapun ayah ingin kau mendapatkan yang terbaik.” “Ayahmu benar Ra ! kita semua menginginkan yang terbaik untukmu.” “Apakah Pak Thio tidak baik?” ujarku. Ayah dan ibuku tersenyum lembut padaku. “Dari penampilan fisiknya, memang Pak Tio tak ada celanya, begitu pun dalam hal materi, dia sudah mapan, tapi yang memberatkan ayah dan ibumu masalah keyakinan.” Karena menurut ayah,”kokohnya sebuah hubungan apabila kita memiliki keyakinan yang sama.” Aku termenung tak mampu menjawab atau pun membantah ayahku, karena aku pun sependapat dengan ayahku, tapi untuk melepaskan Pak Thio, terus terang saat ini aku tak mampu. “Kamu tidak usah memutuskan saat ini, pikirkanlah baik buruknya. Ayah tahu ini keputusan berat bagimu, tapi apa pun keputusanmu ayah hargai itu dan kamu bisa mempertanggungjawabkan keputusanmu.” “Sekarang sudah malam istirahatlah, bukankah besok kamu harus kerja.” ujar ayahku. Aku pun pamit untuk masuk kamar dan tidur, tapi malam ini aku tidak bisa tidur memikirkan apa yang dikatakan ayahku, ayah benar keyakinan kami berbeda walau sampai saat ini aku pun belum begitu jelas dengan keyakinan Pak Thio, karena yang aku tau ibunya seorang muslim, ayahnya penganut Kristen, setiap perayaan Natal ibunya selalu ikut begitu juga dengan anak-anaknya begitu pun kalo lebaran tiba mereka ikut merayakan juga, aku betul-betul bingung. Esoknya di kantor Pak Thio datang agak terlambat, pukul Sembilan dia baru datang bersama rekannya dari Jerman. Pak Thio memperkenalkan tamunya kepada kami. Mr. Andrew, orangnya tinggi, kulit putih dan rambut merah khas orang Jerman, kami semua mengucapkan selamat datang. Kulirik Mr. Andrew ketika bersalaman dengan Vivian, dia menatapnya lama sekali, waah bakal ada cerita menarik nih batinku. Malamnya, aku dan staf yang lainnya diundang makan malam di rumah makan Kalapa Lagoon di jalan Sumatra, sebagai ucapan selamat datang. Mr. Andrew akan tinggal di Bandung selama dua atau tiga bulan itu pun kalau tidak ada hambatan. Selama makan malam kulihat Mr. Andrew seringkali mencuri pandangan kearah Vivian begitu pun sebaliknya. Aku tersenyum senang, seandainya mereka menjadi pasangan kekasih, mereka akan mejadi pasangan yang sangat ideal, Vivian sangat cantik dan kupikir sangat serasi dengan Mr. Andrew. Selesai makan malam Pak Thio mengantarku pulang, diperjalanan aku lebih banyak diam, aku masih memikirkan ucapan ayahku kemarin malam. Aku sangat bingung, rupanya Pak Thio membaca kegelisahanku. “Kamu kenapa ? kuperhatikan dari tadi melamun.” Aku hanya tersenyum, sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan. “Aku ingin kita selalu terbuka, jika kamu punya masalah, berarti itu masalahku juga, karena kamu pacarku, apalagi jika masalah itu menyangkut hubungan kita.” Aku menghela nafas, rupanya Pak Thio bisa membaca pikiranku. “Semalam ayahku bertanya tentang hubungan kita.” “Oh ..ya , terus ….bagaimana? apakah beliau setuju dengan hubungan kita?” “Orang tuaku menyerahkan sepenuhnya padaku.” Kulihat Pak Thio tersenyum, “syukur deh, tapi kuperhatikan sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan.” “Ya… ayahku khawatir tentang perbedaan keyakinan kita.” Tiba-tiba Pak Thio menghentikan mobilnya kepinggir, dia menatapku sambil tersenyum kemudian dia mengambil dompet di saku celananya lalu mengambil KTP dan menyerahkannya padaku “ bacalah,” ujarnya. Aku mengambil KTP lalu perlahan mataku membaca tulisan di KTP, disana tertera kalau Pak Thio beragama Islam. “Ra…kamu tahu sendiri kan! kalau ibuku seorang muslim sedangkan ayahku penganut Kristen, walaupun ayah dan ibuku memiliki keyakinan yang berbeda meraka saling menghargai, begitu pun kami anak-anaknya diberikan kebebasan untuk memilih keyakinan yang betul-betul kami yakini, adikku Jean dan Thian beragama Kristen mengikuti keyakinan ayahku, sedangkan aku mengikuti keyakinan ibuku, semua tidak ada paksaan, orang tuaku menyerahkan sepenuhnya pada kami. Aku juga bisa mengaji walau hanya sedikit, begitu pula sholat walaupun sering bolong-bolong melaksanakannya.” Tiba-tiba Pak Thio memegang tanganku sambil menatapku dalam-dalam, aku tak mampu melawan tatapannya, perlahan kutundukkan kepalaku. “Ra…! aku tidak pernah main-main dengan segala keputusan yang kuambil, begitu pun saat kuungkapkan segala perasaanku padamu. Saat itu terpatri janji dalam hatiku, apa pun rintangan yang kita hadapi berdua, aku harus mampu melewati rintangan itu apa pun bentuk dan konsekwensinya.” “Bagimana dengan keluarga Ko Thio apakah, mereka bisa menerima aku,” Ucapku lirih. “Orang tuaku selalu memberikan kebebasan padaku untuk menentukan jalan hidupku. Rasanya untuk menentukan siapa pendamping hidupku, merekapun begitu.” Jalanan terasa semakin lengang, kulirik jam dipergelangan tanganku, setengah sebelas malam batinku. Rupanya Pak Thio mengerti kalo waktu merambat mendekati tengah malam, dia lepaskan tangannya perlahan kembali memegang kemudi, mobil yang kami tumpangi membelah kota Bandung yang mulai lengang. Ada kedamaian yang menyusup relung hatiku, tapi disisi hatiku yang lain bercokol kecemasan yang tak kupahami, apa yang kucemaskan??? “Oh ya …! aku ingin berbicara dengan keluargamu tentang hubungan kita, kapan kira-kira waktu yang tepat?” Tiba-tiba Pak Thio memberikan pertanyaan yang terus terang sangat sulit untuk menjawabnya. “Nanti kalau waktunya sudah tepat,” jawabku sekenanya. Pak Thio tersenyum sambil berucap lirih, “Aku akan tunggu sampai kapan pun .” Tak terasa kami sudah tiba di rumah, Pak Thio menolak ketika kuajak masuk ke rumah. Orang tuaku sudah tidur, Bik Nur pembantuku yang setia membukakan pintu, aku langsung masuk kamar bersiap-siap untuk tidur. Esoknya, aku kembali menerima sepucuk email dari Dicky. Dear Ira, Kebahagian terbesar dalam hidupku adalah ketika aku membaca sepenggal email darimu, aku tak peduli apa isi email itu, aku bahagia karena kau masih ada dan mau membalas emailku. Hal itu memberikan secercah harapan dalam hidupku yang selama ini hilang. Sepertinya hidupku kembali memiliki tujuan yang selama ini tidak pasti. Berikan aku sedikit waktu untuk menata hidupku, agar aku berarti dihadapanmu, karena aku tak letih mencintaimu. Aku ingat sebuah pepatah” Cinta yang besar bisa mengalahkan topan dan badai,” dan aku yakin dengan cintaku, aku mampu mengalahkan segalanya. Yang selalu mencintaimu, Dicky Kupandangi komputer tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba telepon berdering kuangkat ternyata Pak Thio yang nelpon, siang ini dia mengajak aku dan Vivian untuk makan siang menemani Mr. Andrew makan siang. Kulirik jam pukul sebelas, masih ada waktu satu jam lagi untuk meneruskan pekerjaanku. Aku tak berniat membalas email dari Dicky, keputusanku sudah bulat untuk melupakan dia. Kupikir lebih baik tak kubalas setiap email yang datang. Membalasnya sama saja dengan memberikan harapan. Tiba-tiba ada email lagi yang masuk, rupanya Nanda kakakku, cepat-cepat kubuka email tersebut rasa kangen perlahan menyeruak dalam setiap aliran darahku. Isinya sangat singkat tapi membuatku bahagia, kakakku akan pulang minggu depan, dia mendapat cuti selama dua minggu. Tepat pukul dua belas Vivian menghampiri meja kerjaku. “Ra …! kita udah ditunggu nih.” “Ok…!” jawabku singkat sambil membereskan file-file yang belum rampung kukerjakan, kumatikan komputer. Aku melangkah menghampiri Vivian, ternyata Pak Thio dan Mr. Andrew sudah menunggu, aku minta maaf atas keterlambatanku. Kami berangkat berlima bersama sopir. Mr. Andrew memilih duduk disamping sopir, dia ingin melihat-lihat kota Bandung di siang hari., “The ladies of Bandung city are beautiful, I will be marrying with the ladies of Bandung.” Ujarnya dalam Bahasa Inggris dengan logat Jerman yang kental. Aku hanya tersenyum sambil melirik Vivian, tiba-tiba mukanya kelihatan memerah, aku yakin kalau Vivian naksir Mr. Andrew. Begitu pun Mr. Andrew dia sepertinya menyukai Vivian. Rupanya dugaanku tidak salah, disela-sela makan siang ketika aku memiliki kesempatan berdua dengan Pak Thio, Pak Thio berbisik padaku kalau ternyata Mr. Andrew naksir Vivian, dan Pak Thio meminta aku untuk turut menjodohkan mereka. Kusambut permintaan Pak Thio dengan senang hati dan aku pun berharap Vivian segera membuka hatinya, karena yang kutahu setelah dia putus dengan Steven dia tidak pernah punya pacar lagi, padahal Steven pacarnya waktu dia masih kuliah, Vivian belum bisa melupakan Steven mudah-mudahan dengan hadirnya Mr. Andrew posisi Steven dihatinya bisa tergantikan. Waktu pulang kami menggunakan mobil yang terpisah, rupanya Pak Thio sudah menyiapkan skenario, bagaimana caranya supaya Vivian bisa pulang dengan Mr. Andrew, ketika berangkat tadi dia sudah menyuruh seorang sopir lagi untuk menjemput kami. “Kami harus ke Batujajar untuk menandatangani kontrak pembelian pabrik yang di Batujajar, aku akan berangkat bersama Ira, sedangkan Mr. Andrew di perlukan dipabrik jalan Industri untuk pemasangan mesin-mesin yang baru. Vivian..! kamu temani Mr. Andrew yah.” Kulihat wajah Vivian, ekpresinya sangat sulit diterjemahkan apakah dia senang atau tidak. yang kulihat dia hanya menganggukan kepala tanda setuju. Ku hampiri Vivian sambil berujar “Have nice day,” Vivian tersenyum sambil berujar “semoga saja.” Diperjalanan tiba-tiba HP-ku berbunyi, ada SMS masuk, ternyata dari kakakku Manda dia mengabarkan tentang kepulangan Nanda, dan diapun akan pulang sabtu besok, kubalas SMS dari kakakku. Tiba-tiba Pak Thio bertanya; “SMS dari siapa ?” “Dari Kak Manda, kakakku, sabtu besok dia akan ke Bandung, kami akan berkumpul, kebetulan kakakku Nanda dari Papua akan pulang sabtu ini, dia mendapat cuti selama dua minggu.” “Wah asyik dong, kok aku gak diundang nih, untuk dikenalkan dengan kakak-kakakmu.” Aku tersenyum “kakak-kakakku kan baru mau ke Bandung, kalo Ko Thio mau aku pasti kenalkan dengan kedua kakak-kakakku.” “Bukan mau atau tidak tapi harus, aku juga ingin kenal lebih dekat dengan kedua kakak-kakakmu.” “Tadinya sabtu ini aku ingin mengenalkan kamu pada kedua orangtuaku, walaupun mereka sudah mengenal kamu, tapi sampai saat ini mereka belum tahu kalau kamu tuh pacarku.” “Tapi sepertinya sabtu ini kamu gak akan bisa, mudah-mudahan sabtu depannya kau bisa kuajak ke rumah orang tuaku.” “Ya…. mudah-mudahan, tapi sabtu ini aku sangat berharap Ko Thio datang ke rumah, aku ingin mengenalkan Koko dengan kedua kakakku.” “Ok … dengan senang hati” jawabnya sambil tersenyum. Di luar udara terasa menyengat, Pak Thio membelokkan laju kendaraanya kearah Batujajar, tak terasa sampailah kami ke tempat yang dituju. Pabriknya lumayan luas, bangunannya kelihatan sudah berbulan-bulan tidak terpelihara, banyak yang harus direnovasi. Pak Thio melangkah sambil menggandeng tanganku. Kami masuk ke kantor yang terletak di bagian depan pabrik tersebut, disana sudah menunggu beberapa orang yang ternyata pemilik pabrik dan beberapa saksi dari notaris. Setelah transaksi jual beli selesai, kami pulang sekitar pukul empat sore. Diperjalanan banyak yang kami perbincangkan tentang keinginan, harapan-harapan kami nanti di masa yang akan datang, kelelahan tak Nampak di wajah kami, kami berdua sangat bahagia, tertawa, bercanda bersama. Pak Thio juga menawarkan mengantarku pulang tapi aku menolak, aku merasa kasihan kalau dia harus mengantarku, selain rumah kami berlawanan arah mobilku pun ada di pabrik.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://nia.blogsome.com/2008/06/02/menara-gading-3/trackback/

  1. ehm…bagus sekali ceritanya, aduh gimana sih caranya belajar mengarang,,,,saya mah meni butek nggak bisa….ajarin dong…..

    Comment by urang ozi — June 2, 2008 @ 8:54 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham