Nia dan Coretannya

June 24, 2008

KeNaPa HaRuS AkBar

Filed under: Tentang Anak-anak

    Air Mata Bunda

Gambar diambil dari,thembemz.blogspot. 

 

   Kelulusan sudah berlalu, walaupun tidak seratus persen yang lulus, sekolahku 98,44 % tingkat kelulusannya. Ada 1,56 % yang tidak lulus, salah satunya adalah Akbar murid di kelasku. Terus terang aku sangat sedih sekali, kenapa harus dia ? Selama aku mengajarnya dia tergolong anak yang baik, walaupun dia tidak pintar tapi di cukup rajin ke sekolah dan mengikuti pemantapan. Padahal masih banyak anak yang lain, anak yang malas ke sekolah dan sedikit nakal, bahkan ada anak yang tidak pernah sekolah, dalam satu semester hanya beberapa hari dia sekolah dan ketika mengikuti UN dia dapat lulus dengan nilai yang baik.

        Hari-hari sebelum kelulusan adalah hari-hari yang sangat melelahkan buatku, mulai dengan acara Family Day di sekolah anakku yang kebetulan acara tersebut dilaksanakan di luar sekolah jadi cukup menyita waktu dan tenaga. kedua HP-ku kena Virus, awalnya aku mendapat MMS dari seseorang yang berupa Photo yang tak dapat kubuka, dasar aku orangnya suka penasaran kucoba terus untuk dibuka, yang ternyata isinya virus, jadi setiap aku ngirim SMS pasti aku kirim MMS terima kasih untuk ‘Balga Pardede’ yang telah meluangkan waktu dan tenaga untukku." Urusan virus di HP selesai tinggal temenku Trio Kwek-kwek yang terus-terusan mengajakku mengambil baju untuk perpisahan. Akhirnya kami pergi berenam, Teh Ela dibonceng olehku, sepanjang jalan kami ngobrol dan tak terasa kami nyasar, harusnya bel juga, parahnya bukan satu atau dua tapi sampai puluhan, ada yang bilang nomorku kena tapi hal itu dibantah oleh temenku yang kebetulan MMS itu nyasar padanya, dia pun tak lupa mengirimkan beberapa anti virus sambil menuntunku untuk membuang virus tersebut, ternyata tak semudah kubayangkan, sampai bermacam-macam anti virus dicoba, aku hampir putus asa, kubilang udah akh…aku ganti HP aja, "bentar dulu," ujarnya. Coba lagi yang ini. Akhirnya Virus itu hilang dari HP-ku "Terima kasih untuk ok ini….lurus… "gpp deh masih Bandung,"  ujar Teh Ela. Kami sepakat untuk parkir di Gramedia,  ternyata penuh banget dan tidak bisa parkir disana. Kuputuskan untuk parkir sendiri Teh Ela kusuruh menunggu, stelah kuparkir motorku kucari Teh Ela ternyata sudah tidak ada di tempat tadi, aku bingung, kucari kesana-sini, aku lupa tasku dibawa Teh Ela, dompet dan HP-ku ada disana. aku bingung dan betul-betul bingung. Tapi Alhamdulillah akhirnya ketemu walau cukup lama mencari.

       Sore hari baru pulang, pukul setengah enam aku sampai di sekolah lagi, sambil melihat informasi kelulusan untuk besok, ternyata belum ada, untuk informasi paling pukul sepuluh malam. Akhirnya kuputuskan untuk pulang sambil berpesan, "kalau sudah ada tolong kabari aku," ujarku.

       Sampai di rumah, aku istirahat sebentar, kulanjutkan menulis raport, walau rasa lelah menderaku, pikirku sambil menunggu kabar kelulusan. Pukul 22.15 tiba-tiba telepon rumahku berbunyi, ternyata Teh Ela mengabarkan kelulusan sudah ada, kutanya siapa saja yang tidak lulus? "belum ada kabar," jawabnya. Terus terang aku merasa resah tapi untuk nelepon yang lain takutnya mengganggu. Ku SMS Pak Sony mengabarkan kalo kelulusan sudah ada, dia kembali bertanya seperti aku bertanya pada Teh Ela, dan jawabanku juga sama seperti Teh Ela.

        Pagi-pagi kuputuskan untuk nelepon Pak UU aku ingin tahu siapa saja yang tidak lulus,  ada enam orang yang tidak lulus, ketika Pak UU menyebut nama Akbar, terus terang aku langsung lemas, tak ada gairah lagi untuk mendengar nama-nama yang lainnya. Badan terasa lunglai, terbayang Akbar yang selalu tersenyum, yang berusaha membangun keakraban denganku. Dan terus terang ada perasaan dekat dalam hatiku, aku menyukainya di luar kemampuanku yang tidak boleh membeda-bedakan murid, dia tidak pintar, tapi cukup rajin dan tidak macem-macem. Tak terasa aku meneteskan air mata, menangis.

        Sampai di sekolah kembali aku tak dapat membendung airmataku, kenapa harus Akbar ?  kenapa harus Akbar ? pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku. Ketika tiba saatnya membagikan hasil kelulusan dan aku menuju kelasku, aku berharap semoga Akbar tidak hadir cukup orang tuanya saja yang hadir. Tapi ketika aku naik tangga, "Ibu….gimana Akbar lulus nggak," ujarnya sambil mencium tanganku. Aku berusaha menahan perasaanku sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mata.

"Mana orang tuanya ?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Bapakku nggak bisa kesini bu," jawabnya.

"Ibu minta no HP orang tua kamu aja."

Karena waktu itu kami sepakat untuk anak yang tidak lulus orang tuanya langsung menghadap kepala sekolah.

"Akbar nggak lulus yah bu ?"tanyanya sambil menampakkan muka sedih. 

Kukatakan kelulusan tidak akan diberikan kalau tidak diambil oleh orang tua.

        Aku bersyukur tidak mengeluarkan air mata dihadapan Akbar. Ketika aku sedang membagikan kelulusan, Akbar muncul didampingi ayahnya, terus terang konsentrasiku langsung buyar. Semua sudah dibagikan tinggal punya Iqbal dan Ulumuddin yang kebetulan orang tuanya tidak hadir. Kebetulan Ullumudin sahabat Akbar, dia bertanya, lebih jelasnya mengabarkan kalau Akbar tadi menangis.  Tiba-tiba aku tak dapat membendung airmataku, tumpah begitu saja … Kukatakan "kalo ada waktu tolong temui Akbar, temani dia, saat ini Akbar butuh teman," ujarku.

"Ibu jangan nangis, Ulum juga sedih…bu, walaupun lulus tetap saja seperti ada yang kurang."

        Sore harinya sampai rumah perasaan sedih masih menyelimutiku, kucoba telepon Akbar tapi tidak diangkat, lalu ketelepon Ulum, ayahnya yang menjawab,"Ullum lagi mandi" jawab ayahnya kukatakan kalau nanti aku akan telepon kembali. Karena aku orangnya tak sabaran kucari no HP Dian sahabat Akbar yang lain, kuminta Dian agar melihat Akbar, kukatakan "jangan menemani dia saat suka saja, tapi justru sahabat sesungguhnya adalah yang selalu menemani di saat duka."

        Selang beberapa jam Dian SMS dan sudah sampe di rumah Akbar, aku langsung meraih teleponku dan menelepon Akbar ke HP Dian. Kudengar suara Akbar.

"BU ini Akbar," Ujarnya sambil tertawa.

"Akbar nggak apa-apa ?" tanyaku sambil menahan perasaan sedihku.

"Nggak bu, ibu jangan sedih  Akbar nggak apa-apa.

        Itulah Akbar dalam keadaan apa pun dia selalu menghadapi hidup ini dengan senyum khasnya. Padahal aku tahu ada tangis…dalam hatinya, dan di kalimat terakhir aku tahu kalau dia menangis. Kenapa harus Akbar ???

 

 

6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nia.blogsome.com/2008/06/24/kenapa-harus-akbar/trackback/

  1. Ibu guru yang baik, sebegitunya dekat dengan muridnya, tatkala murid sedang dirundung duka. Ibu guru turut berduka juga, sampai menitikan air mata, kayanya satu dalam seribu ibu guru yang demikian….God Bless You bu Nia….

    Comment by fz — June 24, 2008 @ 10:25 am

  2. Saya juga ikut prihatin anak yang kita kenal baik tidak lulus dan sebaliknya yang kita kenal malas tidak lulus. Itulah sistem ujian yang bernama UN.

    Comment by Sandy Guswan — June 24, 2008 @ 11:16 am

  3. Saya yakin itulah yang terbaik untuk Akbar. Di balik semua itu ada rahasia Tuhan yang belum terjawab maknanya. Iklaskanlah dia untuk tidak lulus. Dengan peristiwa gagalnya dia, semoga besar hikmahnya. Saya berharap, dengan kegagalanya menempuh UN, matanya akan lebih terbuka pada kehidupan, bahwa inilah hidup, ada susah ada senang, ada gagal ada sukses, dan ada hidup ada mati. Semoga dengan peristiwa ini, Akbar anakku kelak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian bijak dan tahan banting, sehingga bisa meraih apa pun yang dia inginkan, amin…

    Comment by pop_ice — June 25, 2008 @ 12:10 am

  4. Saya juga turut merasakan kesedihan ibu guru yang baik. Tetapi . . segala sesuatu ada masanya. Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Amin

    Comment by wawan — June 25, 2008 @ 4:23 am

  5. wow….. perhatian banget……

    Comment by awan — June 26, 2008 @ 1:04 am

  6. Terima kasih atas semua komentar dan simpatinya,semoga untuk ke depan pendidikan kita tidak terbentur dengan birokrasi….yang seringkali memusingkan.

    Comment by nia — June 26, 2008 @ 3:36 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham