NoNtOn TeRmAhAl

Ini pengalamanku yang sudah cukup lama, pengalamanku di bulan November tahun 2003. Tapi masih kuingat dengan jelas dan kalau ingat suka tertawa sendiri. (Malu juga sih tertawa sendiri, biar ada teman ketawa, jadi kutulis aja…. He he he kegeeran banget yah ! padahal orang lain belum tentu ketawa).
Saat itu kami sekeluarga berkesempatan untuk jalan-jalan ke negeri tetangga bersama keluarga; aku, suamiku dan kedua anakku yang saat itu masih berusia 6 dan 4 tahun. Kami berkunjung ke negara kecil yang terkenal dengan kebersihan dan kedisiplinannya.
Banyak yang dapat kami petik di sana, selain beberapa pengalaman yang berharga, juga kami dapat membuktikan pepatah yang mengatakan “Hujan emas di negeri orang lebih enak hujan batu di negeri sendiri” ( Padahal yang bener lebih enak hujan emas di negeri sendiri … he he he).
Hampir seminggu kami di sana, yang kami lakukan jalan-jalan, tidur, dan makan. Kami lupakan sejenak rutinitas yang biasanya mendera kami. Biasanya kalau malam hari kami memikirkan apa yang akan dikerjakan besok. Di sana kami hanya memikirkan besok main kemana? Kami ke sana tanpa Guide, karena kami tidak menggunakan travel saat itu. Alasannya karena anak-anak masih kecil dan mereka tidak bisa terikat waktu. Beruntunglah ada Guide yang cukup handal dan bisa diandalkan yaitu suamiku.
Tak banyak kesulitan yang kami temui di sana, baik itu masalah waktu ,karena perbedaan waktu yang tak begitu jauh maupun dari segi bahasa yang rata-rata menggunakan bahasa campuran; Melayu, Mandarin dan Bahasa Inggris. Jadi walaupun kemampuan Bahasa Inggrisku jelek banget, nggak terlalu khawatir.
Yang lebih menyenangkan lagi, banyak kutemui orang-orang Indonesia di sana, baik di pusat-pusat perbelanjaan maupun di tempat-tempat wisata. Dan yang lebih menguntungkan, aku gampang kenal dengan orang. Jadi kemana pun aku pergi selalu ada teman untuk ngobrol atau sekedar bertegur sapa.
Kami pergi ke beberapa tempat diantaranya; Santosa Island, Jurong Bird Park dan tempat pavorit kami nongkrong adalah Lucky Plaza dan Takasimaya ( Kaya anak muda aja pake nongkrong segala…he he he..).
Yang menyulitkan kami adalah untuk beradaftasi dengan kebiasaan mereka yang kemana-mana selalu jalan kaki. Kami tidak bisa sembarangan untuk naik kendaraan, untuk naik taksi saja kita mesti antri di tempat yang sudah disediakan. Sedangkan disini, untuk jarak beberapa ratus meter saja enggan berjalan kaki, hal ini karena fasilitas di negeri kita yang serba enak. Kapan dan dimana saja kita bisa menyetop angkutan umum baik itu angkot, bis kota, beca bahkan kini ojek yang kian menjamur dimana-mana.
Masalah jalan kaki ini bukan hanya menjadi problem kami sekeluarga, ternyata orang lain pun mengalami hal yang sama. Saat itu aku sedang duduk di bangku yang terbuat dari tembok di depan Takasimaya bermain-main bersama anak-anakku. Saat itu suamiku pergi untuk membeli ice cream untuk kedua anakku, karena aku dan kedua anakku kecapaian jadi terpaksa suamiku yang mendapat mandat untuk membeli ice cream.
Di depanku duduk seorang laki-laki dari Indonesia , tampak wajahnya begitu lelah sambil mengurut-urut kakinya. Rupanya dia merasa pegal setelah berjalan-jalan. Akhirnya kami terlibat obrolan kecil, dia mengatakan, “ Tak tahan tinggal di sini, kemana-mana harus jalan kaki.”
Aku tersenyum,” Sama dong Pak,” ujarku dalam hati.
Dia menginap di sebuah apartement saudaranya, nah dari apartement itu kemana-mana harus jalan kaki padahal lumayan jauh.
Suatu hari, kami merasa cape dan ingin isirahat di hotel tempat kami menginap (kebetulan esoknya kami harus kembali ke negeri tercinta). Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke hotel. Anak-anak dan suamiku tidur siang, kebetulan aku tidak biasa tidur siang, jadi disaat anak-anak dan suamiku tidur, aku merasa bosan juga. Untuk menepis rasa bosan aku SMS teman atau saudara-saudaraku. Selain itu aku nonton TV yang ternyata tidak semudah dan seenak di tanah air tercinta.
Saat aku nyalakan TV dan mengganti channel , selalu ada perintah berupa konfirmasi untuk kesediaan membayar. “Waaah bayar kemana pikirku , ” Toh di kita juga TV nggak bayar kok! Memang dulu sih pernah ada iuran TV ( Kalau nggak salah sekitar di awal tahun 1990). Tapi iuran itu hanya seumur jagung.
Aku nonton seperti layaknya kebiasaan di rumah, setiap acara yang tidak berkenan selalu kupindahkan channel. Padahal setiap ganti channel berarti aku kembali membayar. Tak ada satu pun tontonan yang kutonton sampai tuntas. Begitulah yang kulakukan disetiap waktu senggang.
Sampai suatu kali suamiku terbangun dan memerhatikan kebiasaanku tersebut.
“Nonton TV bayar lho!” Ujar suamiku.
“Masa sich,” Jawabku tak percaya.
“Ya lihat aja nanti,” ujar suamiku, sepertinya enggan menjelaskan.
Akhirnya aku percaya, aku menghabiskan uang 100 $ ( kalau di Rupiahkan waktu itu aku menghabiskan uang sekitar
(Rp. 500.000,00 ) untuk nonton TV yang tak kutonton sampai tuntas. Hanya pindah-pindah channel saja.
“Coba kalau nonton di bioskop bisa berpuluh-puluh kali tuh,” Ujar suamiku sambil menertawakan aku.
Atuda nga ignore pesan yang sudah di layarkan di TV, teu percaya sih nya? atuda saha nu rek tahu urang muka TV. Tuh nya didunya manusa geus bisa ngamat2i jelema bari nyumput. Komo Allah NU Maha Kawasa nu Maha Ningali.
Comment by uwa ozi — November 17, 2008 @ 9:36 pm