
Hari Rabu setelah istirahat, adalah jamku untuk mengajar di kelas 9H. Lima menit sebelum bell berbunyi, Agung salah satu muridku di kelas 9H, menghampiriku.
“Bu ada yang ngamuk,” ujarnya.
“Iya Bu …!”Ujar anak-anak yang lain.
“Ngamuk?” ujarku sambil tersenyum.
“Iiiiiyaaa ….Ibu,” Jawab anak-anak yang lain begitu kompak seperti sudah latihan sebelumnya.
“Ya …. sudah, Ibu masuk sekarang, ujarku. Sambil menyuruh anak-anak untuk mengambil buku latihan yang sudah selesai kuperiksa.
Aku masuk kelas … anak-anak yang tadinya ribut, kembali duduk dengan manis, sambil sesekali menunjuk salah satu muridku yang bernama Zaenal. Matanya begitu merah, tangan mengepal, isak tertahan keluar dari mulutnya. Tatapannya lurus ke depan, ada amarah dalam tatapannya. Aku begitu ngeri juga melihatnya. Satu kenyataan kudapatkan, jangan pernah remehkan orang marah …. walau itu hanya anak-anak. Ternyata mengerikan juga. Kudekati dia …. isaknya semakin keras dan kurasakan dia berusaha menahan amarah yang sangat besar. Kuusap-usap punggungnya ( itu yang biasa kulakukan kalau anakku menangis, dan biasanya ampuh ) sambil kutanya kenapa? (more…)