LaKi-LaKi SeJaTi

Hari Rabu setelah istirahat, adalah jamku untuk mengajar di kelas 9H. Lima menit sebelum bell berbunyi, Agung salah satu muridku di kelas 9H, menghampiriku.
“Bu ada yang ngamuk,” ujarnya.
“Iya Bu …!”Ujar anak-anak yang lain.
“Ngamuk?” ujarku sambil tersenyum.
“Iiiiiyaaa ….Ibu,” Jawab anak-anak yang lain begitu kompak seperti sudah latihan sebelumnya.
“Ya …. sudah, Ibu masuk sekarang, ujarku. Sambil menyuruh anak-anak untuk mengambil buku latihan yang sudah selesai kuperiksa.
Aku masuk kelas … anak-anak yang tadinya ribut, kembali duduk dengan manis, sambil sesekali menunjuk salah satu muridku yang bernama Zaenal. Matanya begitu merah, tangan mengepal, isak tertahan keluar dari mulutnya. Tatapannya lurus ke depan, ada amarah dalam tatapannya. Aku begitu ngeri juga melihatnya. Satu kenyataan kudapatkan, jangan pernah remehkan orang marah …. walau itu hanya anak-anak. Ternyata mengerikan juga. Kudekati dia …. isaknya semakin keras dan kurasakan dia berusaha menahan amarah yang sangat besar. Kuusap-usap punggungnya ( itu yang biasa kulakukan kalau anakku menangis, dan biasanya ampuh ) sambil kutanya kenapa?
Dia tidak menjawab pertanyaanku, pandangannya tetap lurus ke depan. Kualihkan pandangan ke anak-anak yang lain, sambil kutanya Zaenal kenapa?
“Digangguin…… Bu!”Jawab … anak-anak perempuan.
“Siapa yang mengganggu Zaenal ?” tanyaku.
Tak ada jawaban …. hanya sempat kuperhatikan, pandangan anak-anak tertuju pada Rendy dan beberapa anak lainnya, kuperhatikan juga Rendy salah tingkah.
Kenyataan kedua … Anak-anak tidak pernah bisa menyembunyikan kebohongan atau pun kesalahan yang mereka lakukan.
Kuajak Zaenal untuk ke luar dari kelas, tapi dia menolak.
Kucoba bertanya, “Siapa yang mengganggu kamu?”…. dia gelengkan kepala sambil berujar, Percuma bu … kalau saya katakan nanti dia dendam pada saya,” jawabnya dalam isak tertahan.
“Ya sudah … kalau kamu ingin nangis, keluarkan saja, jangan ditahan.”
Aku kembali ke depan kelas, kupandangi anak-anak. Mereka terdiam seolah menunggu vonis yang akan dijatuhkan. Padahal aku bukanlah hakim yang memiliki hak untuk menjatuhkan vonis.
“Kalian tahu tidak, seperti apakah laki-laki sejati?” tanyaku.
Kulihat anak-anak tersenyum…. ketegangan hilang dari raut wajah mereka.
“Laki-laki sejati itu bukanlah, yang berbadan tegap atau pun yang pandai berkelahi. Tapi laki-laki sejati adalah laki-laki yang memiliki tanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dia lakukan, mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf. Dan berjanji tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.”
Tiba-tiba kulihat Zulkarnaen, Imam, Rendy dan diikuti oleh hampir seluruh anak laki-laki di kelas itu berdiri menghampiri Zaenal sambil mengulurkan tangan untuk meminta maaf.
“Orang yang paling mulia adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menyimpan dendam dalam hatinya,” ujarku, karena kulihat Zaenal begitu enggan mengulurkan tangan untuk memberi maaf. Setelah mendengar perkataanku zaenal mengulurkan tangan untuk memberi maaf pada teman-temannya.
Ada kelegaan dalam hatiku, begitu pun anak-anak. Mereka kembali belajar tanpa ada beban sedikit pun. Aku pun kembali mengajar selama dua jam di kelas tersebut. Selama dua jam pelajaran Zaenal tidak belajar, dia masih terdiam tapi sinar kemarahan, kekesalan sudah hilang dari wajahnya.
Esoknya, aku bertemu dengan Zaenal, dia sedang tertawa dan bercanda bersama teman-temanya. Dia memanggilku sambil mengucapkan salam dan tersenyum. Itulah anak-anak, mereka begitu mudah melupakan kemarahan, dendam yang bersarang dihatinya. Seandainya orang-orang dewasa seperti mereka, betapa damai hidup ini.
Memang ibu Nia itu guru yang baik. kalau semua guru sabar dan dapat menanggulangi keresahan anak, dan dapat mendamaikannya,tidak akan ada anak yang saling mendendam, semua akan damai. Begitu juga kata ibu kalau semua orang dewasa kaya anak muridnya bu Nia dunia akan damai, tentram dan tidak ada peperangan. Mudah2an dunia aman dan damailah untuk kesejahtraan manusia di muka bumi ini. I hate war !!!!!
Comment by urang ozi — February 15, 2009 @ 6:26 am
Waaah ….uwa berlebihan tuuuh, tanya bu Reni atau bu Popon… bener nggak bu Nia baik? pasti jawabnya …. Bu Nia emosional plus cengeng …. he he he. I m Agree.. Mr
Comment by nia — February 15, 2009 @ 7:16 am
kedekatan, dan kepedulian….
Comment by Gibson — May 19, 2009 @ 11:38 am