

Memiliki sahabat yang tinggal berjauhan dengan kita adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Banyak hal yang kita dapatkan dengan memiliki sahabat yang memiliki banyak perbedaan dengan kita. Apakah itu perbedaan kebudayaan, kebiasaan, dan latar pendidikan. Memiliki sahabat yang dekat dengan kita, itu sudah pasti,. Kita bisa bertemu, bercengkerama, tertawa bersama , berbagi kesedihan, bahkan jalan-jalan bersama walau hanya sekedar window shopping (belanja nggak, cuman jalan-jalan doang). Semua itu sungguh menyenangkan.
Tapi yang kurasakan, memiliki sahabat yang berjauhan dengan kita memiliki sensasi tersendiri. Jangankan untuk bertemu atau bercanda bersama, untuk sekedar tahu bagaimana kabarnya pun kita memerlukan waktu yang tidak singkat, cukup untuk menguji kesabaran kita. Dan dengan menunggu itulah, kesetiaan dan ketulusan kita dalam bersahabat diuji.
Mungkin, untuk sekarang ini jarak dan waktu bukan halangan. Kita bisa berkomunikasi dengan sahabat yang terhalang oleh lautan dan Samudera hanya dengan hitungan menit bahkan mungkin detik. Kita bisa menggunakan berbagai fasilitas apakah itu telepon atau email. Dulu, sewaktu aku masih sekolah di tingkat SMA sampai aku duduk di bangku kuliah aku memiliki Sahabat Pena. Dia tinggal di Kolaka Sulawesi tenggara. Aku mendapatkan alamatnya dari sebuah majalah remaja. Kami saling bertukar informasi, cerita bahkan seringkali surat-surat kami di isi dengan canda-canda yang menghibur dan menentramkan hati.
Hal yang paling menyenangkan adalah menunggu. Menunggu balasan surat yang kukirim. Ketika Pak Pos lewat dan menyerahkan sepucuk surat untukku, alangkah senangnya. Kebahagiaan yang tak terkira. Bahkan aku seringkali lupa mengucapkan terima kasih pada Pak Pos saking girangnya. ( Terima kasih ya Pak Pos, untuk kebahagiaan yang kau berikan dan baru kusadari kini ).
Aghan nama sahabatku, dia selalu mengirimkan suratnya tepat waktu. Hingga aku pun dapat menghitung kapan surat balasan akan sampai ke tanganku. Dan itu selalu tepat. Suratku seminggu dalam perjalanan, begitu pun suratnya seminggu di perjalanan. Jadi aku hanya menerima surat dua kali dalam satu bulan dan selalu di hari yang sama. Betapa lama penantianku saat itu, kalau dibandingkan dengan teknologi saat ini. (more…)