MeNaRa GaDiNg

Bagian IV
Hari sabtu aku pulang kerja pukul satu siang, jadi ada waktu untuk menyambut kepulangan kakakku. Pak Thio akan datang ke rumah sekitar pukul tujuh malam, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Aku membeli makanan kesukaan kakakku Nanda, kalau Kak Manda aku tidak perlu menyiapkan hal-hal yang khusus karena dia sering pulang ke Bandung, hanya beberapa bulan ini Kak Manda tidak pulang ke Bandung, pekerjaan terlalu menyita waktunya. Pukul setengah tiga aku sampai di rumah, kulihat mobil Kak Manda sudah terparkir dihalaman. Ku ketuk pintu sambil kuucapkan salam, perlahan kubuka pintu kemudian berjalan ke ruang tengah, kulihat kak Nanda dan Kak Manda duduk disamping kedua orangtuaku, kuhampiri mereka, pertama kupeluk Kak Manda sambil menanyakan kabarnya lalu aku beranjak menghampiri Kak Nanda kami saling berpandangan. “ Kenapa Ra….! kamu kaget yah! melihat kulit kakak yang semakin menghitam,atau jangan-jangan kamu pikir, kakak orang Papua yang terdampar ke Bandung” ujarnya sambil menghampiri dan memelukku. “Kakak terlalu ganteng, untuk jadi suku asli Papua,” candaku sambil membalas pelukannya.” “Bagaimana dengan pekerjaanmu ?” Tanya kakakku. “Baik,” jawabku singkat. “Kakak sendiri bagaimana?” “Yah…. namanya bekerja, tapi kakak senang kok disana, “ “Tahu nggak Kak?” tanyaku lirih. “Apa,” jawab kakakku. “Aku paling takut kalo kakak betah disana, terus kakak dapat istri orang sana.” “Heei …..kamu mau yah punya kakak ipar orang Papua,” Ujar Kak Manda. “Lho….emang ada yang salah dengan orang Papua?” ayahku menimpali, diiringi tawa kami. “Denger yah … ! di Papua tidak seperti yang kalian bayangkan, disana banyak kok perempuan cantik.” “Oh…ya,” jawab kami serempak. “ Ya ….mereka pendatang sih, kalau suku aslinya kalian sendiri kan tahu,” ujar kakakku lagi. “ Dari tadi kalian bercanda saja, lebih baik kalian istirahat dulu, Manda, Nanda kalian kan belum istirahat, istirahatlah dulu nanti kan masih banyak waktu.” Ujar ibuku bijak. Di kamar kubaringkan tubuhku,kebahagian menyelimuti hatiku, kebahagiaan dalam bentuk yang lain. Kebahagiaan yang sering kutemukan jika kami sedang berkumpul, perlahan kupanjatkan syukur, karena aku memiliki kedua orang tua yang selalu memahami kami anak- anaknya, kakak-kakakku yang selalu menyayangiku, tiba-tiba menyelinap rasa takut, takut kehilangan mereka. Selepas magrib, aku, kakakku dan ibuku menyiapkan makan malam dibantu Bik Nur pembantu kami yang setia. “ Pak Thio kesini nggak?” Tiba-tiba ibuku bertanya. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Kak Manda bertanya, “ Siapa Pak Thio?” Ibuku hanya tersenyum sambil memandangku. “Wah … yang sudah punya pendamping kok diam-diam sih,”ujar Kak Manda. Aku tersenyum. “Nggak diam-diam kok…! abis Kak Manda jarang pulang sih, padahal Jakarta Bandung kan deket,” jawabku membela diri. “Jadi kakak yang salah nih…?” jawabnya sambil tersenyum. Aku tertawa sambil berujar,” nanti malam dia kesini, ingin berkenalan dengan kakak-kakakku yang cantik dan ganteng.” “Siapa yang mau berkenalan denganku,” tiba-tiba Kak Nanda berdiri disampingku. “Ini lho …! rupanya adik kita diam-diam sudah punya pendamping,” ujar Kak Manda sambil tersenyum menggoda. (more…)