Nia dan Coretannya

June 4, 2008

MeNaRa GaDiNg

Filed under: CerBung

 

 

Bagian IV

Hari sabtu aku pulang kerja pukul satu siang, jadi ada waktu untuk menyambut kepulangan kakakku. Pak Thio akan datang ke rumah sekitar pukul tujuh malam, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Aku membeli makanan kesukaan kakakku Nanda, kalau Kak Manda aku tidak perlu menyiapkan hal-hal yang khusus karena dia sering pulang ke Bandung, hanya beberapa bulan ini Kak Manda tidak pulang ke Bandung, pekerjaan terlalu menyita waktunya. Pukul setengah tiga aku sampai di rumah, kulihat mobil Kak Manda sudah terparkir dihalaman. Ku ketuk pintu sambil kuucapkan salam, perlahan kubuka pintu kemudian berjalan ke ruang tengah, kulihat kak Nanda dan Kak Manda duduk disamping kedua orangtuaku, kuhampiri mereka, pertama kupeluk Kak Manda sambil menanyakan kabarnya lalu aku beranjak menghampiri Kak Nanda kami saling berpandangan. “ Kenapa Ra….! kamu kaget yah! melihat kulit kakak yang semakin menghitam,atau jangan-jangan kamu pikir, kakak orang Papua yang terdampar ke Bandung” ujarnya sambil menghampiri dan memelukku. “Kakak terlalu ganteng, untuk jadi suku asli Papua,” candaku sambil membalas pelukannya.” “Bagaimana dengan pekerjaanmu ?” Tanya kakakku. “Baik,” jawabku singkat. “Kakak sendiri bagaimana?” “Yah…. namanya bekerja, tapi kakak senang kok disana, “ “Tahu nggak Kak?” tanyaku lirih. “Apa,” jawab kakakku. “Aku paling takut kalo kakak betah disana, terus kakak dapat istri orang sana.” “Heei …..kamu mau yah punya kakak ipar orang Papua,” Ujar Kak Manda. “Lho….emang ada yang salah dengan orang Papua?” ayahku menimpali, diiringi tawa kami. “Denger yah … ! di Papua tidak seperti yang kalian bayangkan, disana banyak kok perempuan cantik.” “Oh…ya,” jawab kami serempak. “ Ya ….mereka pendatang sih, kalau suku aslinya kalian sendiri kan tahu,” ujar kakakku lagi. “ Dari tadi kalian bercanda saja, lebih baik kalian istirahat dulu, Manda, Nanda kalian kan belum istirahat, istirahatlah dulu nanti kan masih banyak waktu.” Ujar ibuku bijak. Di kamar kubaringkan tubuhku,kebahagian menyelimuti hatiku, kebahagiaan dalam bentuk yang lain. Kebahagiaan yang sering kutemukan jika kami sedang berkumpul, perlahan kupanjatkan syukur, karena aku memiliki kedua orang tua yang selalu memahami kami anak- anaknya, kakak-kakakku yang selalu menyayangiku, tiba-tiba menyelinap rasa takut, takut kehilangan mereka. Selepas magrib, aku, kakakku dan ibuku menyiapkan makan malam dibantu Bik Nur pembantu kami yang setia. “ Pak Thio kesini nggak?” Tiba-tiba ibuku bertanya. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Kak Manda bertanya, “ Siapa Pak Thio?” Ibuku hanya tersenyum sambil memandangku. “Wah … yang sudah punya pendamping kok diam-diam sih,”ujar Kak Manda. Aku tersenyum. “Nggak diam-diam kok…! abis Kak Manda jarang pulang sih, padahal Jakarta Bandung kan deket,” jawabku membela diri. “Jadi kakak yang salah nih…?” jawabnya sambil tersenyum. Aku tertawa sambil berujar,” nanti malam dia kesini, ingin berkenalan dengan kakak-kakakku yang cantik dan ganteng.” “Siapa yang mau berkenalan denganku,” tiba-tiba Kak Nanda berdiri disampingku. “Ini lho …! rupanya adik kita diam-diam sudah punya pendamping,” ujar Kak Manda sambil tersenyum menggoda. (more…)

May 29, 2008

MeNaRa GaDiNg

Filed under: CerBung

   Bagian II

 

    Sudah pukul Sembilan malam, tapi rasa kantuk tak jua muncul, aku membongkar album foto-foto ketika aku SMA dulu. Dalam setiap kesempatan dimana ada fotoku, pasti Dicky disebelahnya. Keriangan nampak di wajah kami berdua. Dulu, bermimpi pun tidak, kalau aku akan berpisah dengan cara yang sangat menyakitkan. Perlu waktu beberapa tahun untuk melupakannya, entah berapa malam yang penuh dengan air mata karena kepergiannya.     

        Dicky adalah kakak kelasku ketika SMA dulu, aku kelas satu, dia kelas tiga. Aku pacaran dengannya tepat setelah  enam bulan aku duduk di bangku kelas satu. Dia selalu membantuku dalam setiap pelajaran, dia selalu melindungiku, kalau ada yang berusaha menggangguku. Jadilah aku begitu tergantung padanya, kadang untuk memutuskan segala sesuatu aku selalu minta pendapatnya.

         Gaya pacaran kami waktu itu memang berbeda dengan remaja kebanyakan, kami berdua lebih menyukai toko buku atau perpustakaan. Jadi malam minggu sering kali menghabiskan waktu di rumah yang kita bicarakan tentang buku-buku yang kita baca, mulai dari novel-novel ringan, sampai buku-buku yang bersifat ilmiah, nonton pun kita jarang ke bioskop, kita seringkali nonton di rumah, paling selama lima tahun pacaran hanya dua atau tiga kali ke bioskop itu pun pergi rombongan, dengan teman-teman atau kedua kakakku.

         Hari-hari yang kami lalui seolah tak terpisahkan, Setelah kuliah pun rutinitas itu tak berubah. Hingga suatu hari dia tidak kunjung menjemputku, kebetulan aku dan Dicky kuliah di Universitas yang sama, hanya jurusannya saja yang berbeda. Akhirnya aku pergi dengan kakakku, Nanda. Di kampus kucoba mencarinya tapi tak kunjung kutemui. Aku coba telepon ke HPnya tidak aktif, aku coba telepon ke rumahnya tak seorang pun yang mengangkat teleponku. Tidak biasanya seperti ini, kalau pun ada halangan dia pasti mengabariku.

         Sampai di rumah, semua orang tampak gembira, aku berusaha menyembunyikan galau dalam hatiku, rupanya kakak keduaku di terima kerja di Free Port. Lengkap sudah kesunyianku, pertama kakak sulungku Manda kerja di Jakarta, Dicky tak tau rimbanya, kini kak Nanda pun ikut pergi.

         Melihat aku termenung, kakakku berujar, “rupanya ada yang gak seneng nih, aku  diterima kerja.” semua mata memandangku, “nggak kok, aku seneng kakak dapat kerjaan, tapi kanapa harus ke tempat yang jauh.”

“yah …, mungkin disitulah rezeki kakakmu.”

“ Dimana pun kakakmu kerja, nggak apa-apa, asal memberikan kebaikan buat kita semua.”  “Bukankah jarak bukan halangan, ada telepon, terus kalau ada waktu bisa pulang,” Ujar ayahku bijaksana.

“Oh… ya, Dicky kemana?”

“Kok hari ini nggak kelihatan?”

“Dia lagi sibuk, aku yang memintanya agar tak menjemput,” ujarku berbohong.

“Baguslah, kamu harus belajar sendiri, supaya tidak terlalu tergantung pada orang lain,” Ujar ayahku lagi.

“Ya udah, kamu istirahat dulu,” ibuku menimpali.

Aku tidak menjawab, langsung masuk ke kamarku. Ayahku benar selama ini aku begitu tergantung pada Dicky, kini baru sehari aku tidak bertemu dan tidak mendapat kabar darinya, kurasakan seperti berpuluh tahun lamanya. Kucoba lagi menelepon Dicky, hasilnya sama seperti tadi.

         Esoknya di kampus tidak ada, kuberanikan diri mendatangi rumahnya, kutemui rumah yang terkunci, tanpa penghuni. Ku Tanya teman-temannya tak ada yang tahu. Di tengah keputus asaan kudatangi jurusan tempat dia kuliah, kutanyakan kebagian administrasi. Jawaban yang tak kusangka. Sudah seminggu yang lalu dia minta surat keterangan cuti kuliah, aku pergi tanpa mengucapkan terima kasih, pada petugas yang berbaik hati memberikan informasi.

         Segala rasa memenuhi dadaku, hari itu aku tidak mengikuti kuliah, aku pergi ke toko buku, perpustakaan dan tempat-tempat yang biasa kami kunjungi, aku masih berharap menemukan Dicky, walaupun hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. (more…)

May 28, 2008

MeNaRa Gading

Filed under: CerBung

 

Bagian I,

      Hari ini udara terasa panas, matahari tak ramah menyinari bumi, tapi aku terus memacu mobilku, menerobos jalanan.  AC mobil yang rusak dan  tak sempat ku perbaiki menambah panasnya udara di dalam mobil.  Aku buka sedikit kaca jendela mobilku, perlahan angin masuk mengurangi rasa pengap yang mulai kurasakan.  Sampai di depan  BCA, perlahan ku parkir mobilku, hari ini aku  ada tugas yang berurusan dengan Bank, selain itu aku pun perlu uang tunai untuk membeli beberapa keperluanku. Kulirik jam di tanganku masih ada empat puluh menit waktu istirahat kantorku.  Aku bisa mampir  dulu ke rumah makan untuk makan siang. Aku sudah bosan dengan makanan yang tersedia di kantor,  menunya bervariasi tapi rasanya tetap sama.

        Pas pukul tiga belas aku sampai ke kantorku di jalan Industri, aku parkir mobilku, perlahan aku masuk ke ruangan kantorku. Di koridor aku berpapasan dengan Bosku, Pak Thio, sepupu dari sahabatku Vivian, sekaligus anak pemilik perusahaan tempatku bekerja. Dia menyapaku dengan senyum manisnya. Bosku orangnya ganteng, kulitnya putih campuran pribumi dan Chines, badannya tinggi proporsional, baik terhadap karyawan terutama terhadapku, itu kata temen-temen sekantorku, walaupun menurutku dia baik pada semua orang.

Dia menyapaku, “dari mana ?“  

“Dari Bank,” kujawab pendek, terus terang aku merasa kikuk kalau berhadapan dengan dia, walaupun aku sudah lama mengenalnya.

 “Ooh,” jawabnya, tak kalah pendek.

 “ Sudah makan. “ 

“Sudah tadi sekalian di luar,”

“Ya udah aku masuk dulu,  jangan lupa meeting nanti siang pukul: 14.00.“Ujarnya, sambil berlalu dari hadapanku.

        Aku kembali ke meja  kerjaku, menyiapkan file-file penting untuk meeting  yang tinggal beberapa menit lagi.  Meeting kali ini akan membahas perluasan perusahaan dan pembelian beberapa mesin tekstil, yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, yang pasti meeting kali ini akan memakan waktu yang panjang.

         Meeting selesai pas pukul: 17.05. Hari yang melelahkan menurutku. Aku kembali ke meja kerjaku dan bersiap-siap untuk pulang. Teman-temanku sudah berhamburan pulang, dengan langkah malas kulangkahkan ke tempat parkir, sudah dipastikan jalanan pasti macet, apalagi jalan menuju rumahku, aku harus melewati beberapa ruas jalan yang selalu macet, pertama di perlintasan kereta api, yang kedua pas menuju komplek rumahku, dekat pabrik Kahatex itu langganan macet, apalagi jam-jam bubaran kantor seperti ini.

         Sampai di rumah hampir pukul enam, aku istirahat sebentar, mandi, sholat maghrib. Sambil makan malam aku ngobrol dengan kedua orang tuaku, kebetulan kedua kakakku bekerja di luar kota. Kakak sulungku perempuan, bekerja di Jakarta, kakakku yang kedua bekerja di tanah Papua (Free port). Jadilah kami bertiga di rumah ini. Biasanya obrolan kami seputar kejadian-kejadian sepanjang hari. Ayahku seorang dosen di sebuah Perguruan Tinggi swasta di Bandung, sedangkan ibuku seorang guru SD di daerah kami. Ayahku beberapa tahun lagi pensiun. Kadang aku merasa kasihan juga pada orang tuaku, walaupun anak-anaknya sudah hidup berkecukupan,  ketiga anaknya belum menikah. Mungkin sebagai anak bungsu aku tidak terlalu terbebani, tapi kedua kakakku, apalagi yang sulung perempuan. Sepertinya kami terlalu asyik dengan dunia kerja sehingga melupakan bahwa yang diharapkan kedua orang tuaku  selain sukses di dunia kerja juga dapat hidup berumah tangga seperti yang lain. (more…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham