<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Nia dan Coretannya</title>
	<link>http://nia.blogsome.com</link>
	<description>Just Simple Women</description>
	<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 05:32:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Liburan &#8230;.</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/07/09/liburan/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/07/09/liburan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 05:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Diary</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/07/09/liburan/</guid>
		<description><![CDATA[	Tak terasa liburan segera berakhir, padahal dua minggu bukanlah waktu yang sedikit untuk menikmati hari-hari. Hari-hari tanpa disibukkan dengan pekerjaan di luar rumah. Liburan kali ini terasa berbeda dibandingkan dengan liburan waktu-waktu yang lalu. Biasanya liburan kuhabiskan sebagian waktuku di Garut, di rumah orang tuaku. Kali ini keponakan-keponakanku yang berlibur di Bandung, dirumahku dan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Tak terasa liburan segera berakhir, padahal dua minggu bukanlah waktu yang sedikit untuk menikmati hari-hari. Hari-hari tanpa disibukkan dengan pekerjaan di luar rumah. Liburan kali ini terasa berbeda dibandingkan dengan liburan waktu-waktu yang lalu. Biasanya liburan kuhabiskan sebagian waktuku di Garut, di rumah orang tuaku. Kali ini keponakan-keponakanku yang berlibur di Bandung, dirumahku dan di rumah adikku. Sangat menyenangkan melewatkan waktu bersama anak-anak. Banyak yang kulakukan.<br />
Pertama, wisata buku bersama anak-anak. Sebetulnya berkunjung ke Toko Buku, biasa kami lakukan. Hal ini untuk menumbuhkan minat baca anak-anak, dan memberikan pemahaman betapa pentingnya membaca buku itu.<br />
Kedua, kami jalan-jalan setiap waktu senggang, ke Lembang, menikmati bakar jagung, naik kuda [ salah satu hobi anak-anakku], ke Ciater menikmati air panas.<br />
Di penghujung libur, ku sempatkan pergi ke Ciwidey, memetik &#8217;strawbery<br />
<img src='/images/Image055.jpg' alt='Metik Strawbery dulu yaaa....' /></p>
	<p><img src='/images/Image056.jpg' alt='Asyiiik....' />  <img src='/images/Image059.jpg' alt='Mmmmmmmmmmm' /><a id="more-132"></a></p>
	<p>Setelah metik strawbery, kami lanjutkan perjalanan menuju &#8216;Kawah Putih&#8217;<br />
Jalanan yang kami lalui, tidak seperti yang kami bayangkan&#8230;. jalanannya kecil, menanjak, berkelok-kelok, selain itu jalanannya pun penuh dengan lubang. Tak heran banyak mobil atau motor yang mogok di tengah perjalanan.<br />
Ternyata, pengunjung begitu banyak&#8230;.setelah melakukan penyontrengan memilih &#8216;Capres dan Cawapres&#8217; rupanya orang-orang memilih ke luar rumah.<br />
Kelelahan kami sepanjang perjalanan terobati dengan pemandangan indah dihadapan kami&#8230;</p>
	<p><img src='/images/Image012.jpg' alt='' />    <img src='/images/Image015.jpg' alt='' /></p>
	<p><img src='/images/Image016_01.jpg' alt='Kawah putih' />  <img src='/images/Image017.jpg' alt='' /</p>
	<p>"Kawah Putih" kala senja menjelang ......</p>
	<p><img src='/images/Image009_01.jpg' alt='' />    <img src='/images/Image009_02.jpg' alt='' /> </p>
	<p>Berdua lebih baik&#8230;..</p>
	<p><img src='/images/Image005.jpg' alt='' />        <img src='/images/Image021.jpg' alt='' /><br />
Bermain ATV, kok&#8230;..ATV-nya nggak ada  kemana yaaa&#8230;.?? oooh ternyata bersembunyi di balik pohon&#8230;.</p>
	<p><img src='/images/Image025.jpg' alt='' /></p>
	<p>Sore menjelang,&#8230;&#8230; mampir untuk makan dulu  sebelum pulang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/07/09/liburan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SuNdEl BoLoNg</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/05/21/sundel-bolong/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/05/21/sundel-bolong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 02:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Tentang Anak-anak</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/05/21/sundel-bolong/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Jum’at  tanggal 15 Mei 2009
	Ujian Nasional  telah usai begitu pun ujian praktek, tinggal pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah, yang akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 18 Mei 2009. Tapi kesibukan untuk pelaksanaan pendaftaran ke SMK sudah mulai, SMK selalu star lebih awal dibanding sekolah lainnya.  Otomatis kami yang menjadi Wali Kelas   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/jendelapecah.jpg' alt='Kaca Pecah' /></p>
	<p>Jum’at  tanggal 15 Mei 2009<br />
	Ujian Nasional  telah usai begitu pun ujian praktek, tinggal pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah, yang akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 18 Mei 2009. Tapi kesibukan untuk pelaksanaan pendaftaran ke SMK sudah mulai, SMK selalu star lebih awal dibanding sekolah lainnya.  Otomatis kami yang menjadi Wali Kelas   mulai disibukkan dengan kepentingan anak-anak yang mau mendaftar ke SMK. Pengisian raport yang semester lima yang sebelumnya dalam raport sementara di pindahkan ke dalam raport  yang asli, kemudian membantu perlengkapan syarat-syarat pendaftaran ke SMK.<br />
	Aku, yang tidak bisa kemana-mana setelah kecelakaan kecil menimpaku. Akhirnya,di haruskan  kembali beraktivitas di sekolah, hal ini untuk memenuhi kepentingan anak-anak.<br />
	Hari jumat, aku ke sekolah pagi-pagi untuk memenuhi janjiku pada salah satu orang tua murid. Satu persatu anak-anak menghampiriku meminjam raport  untuk di foto copy dari semester satu sampai semester lima,  aku tinggal mengisi yang semester lima dan merata-ratakan setiap semesternya.<br />
	Anak-anak datang secara bergantian, jadi ditengah kekosongan aku bisa membuka note book sambil buka FB, Blog, dan menghapus email di Spam dengan diiringi lagu yang  berjudul “In This Life”  yang dinyanyikan Collin Raye, lagu kesukaanku sejak aku masih kuliah.<br />
	Tiba-tiba, Penny salah satu muridku menghampiri ke mejaku. Kualihkan pandanganku sambil bertanya, “Ada apa  Pen…??”<br />
“Bu, Peny pengin cerita, boleh nggak ??” Tanyanya sambil memandangku.<br />
“Boleh,” jawabku sambil sesekali melihat ke monitor notebook di depanku.<br />
	“kemarin, kita kan latihan drama untuk ujian praktek kesenian.” Ujarnya sambil menunduk.<br />
“Terus….,” tanyaku, melihat dia terdiam  sambil menghela nafas.<br />
“Nah, malamnya Penny mimpi,” ujarnya sambil memainkan jemarinya.<br />
“Mimpi apa…, ketemu pacar…??” tanyaku menggodanya.<br />
“Iiiiih, nggak,  Penny belum pacar.” Jawabnya polos.<br />
“Mimpinya serem bu, Penny mimpi didatangi  orang  yang nggak jelas dalam mimpi. Orang tersebut berkata, ‘hai….kalian, anak-anak jangan bikin ribut, kalian itu mengganggu tidurku.”<br />
“Terus…,” tanyaku, melihat Penny terdiam.<a id="more-131"></a><br />
“Nah, Pas bangun tidur jari Penny jadi bengkak.” Ujarnya sambil memperlihatkan jari manisnya yang kemerahan dan agak bengkak.<br />
	Aku tertawa, “ itu kebetulan” ujarku, sambil mengalihkan pandangan ke monitor.<br />
“Iiiiiih, enggak ibu, ini bener,” Ujarnya lagi meyakinkanku.<br />
“Bu…!!! ‘apa yang harus Penny lakukan,”  ujarnya memandangku.<br />
“Ya udah, sekarang banyak berdoa aja, dan jangan ribut lagi.” Ujarku , terus terang aku juga bingung harus bagaimana.<br />
“ya udah tuch bu, Penny pamit.” Ujarnya sambil mencium tanganku.<br />
“Ya…udah, hati-hati yaa,” ujarku .<br />
	Tak terasa hari beranjak petang, sudah pukul: 03.00. Aku harus pulang, tiba-tiba anak-anak memanggil-manggil namaku sambil melambaikan tangan.<br />
	“Ada apa…???” tanyaku, sambil melambai menyuruhnya masuk.<br />
Anak-anak masuk, berdiri di depan mejaku.<br />
“Ada apa, mau pinjam  raport ???” tanyaku.<br />
“Nggak….ibu, kami mau curhat tapi tidak di sini” jawab  Devi salah satu muridku.<br />
“Ya ..udah di sini aja nggak apa-apa kok.&#8221; Jawabku.<br />
Anak-anak melirik ke belakang mejaku, di sana ada bu Popon dan bu Sri.<br />
&#8220;Udah nggak apa-apa kok, mereka nggak akan mendengarkan kita,&#8221; Ujarku meyakinkan anak-anak.<br />
&#8220;Gini &#8230;bu, kita kan habis latihan drama&#8230;terus, kita beres-beres meja, terus  ada yang bolong.&#8221; Ujar Devi sambil melemparkan pandang ke anak-anak yang lainnya, mukanya terlihat pucat dan ketakutan . Begitu pun anak-anak yang lain, nampak jelas bias ketakutan dari wajah mereka.</p>
	<p>Kuhentikan semua aktivitasku, kualihkan perhatian pada anak-anak. &#8220;Bolong apanya&#8230;??&#8221; tanyaku heran.<br />
&#8220;Iiiiiih, ibu takut&#8230;.ngeri lagi bu&#8230;&#8221; Jawab anak-anak serempak.<br />
&#8220;Iya &#8230;, apa yang membuat takut dan ngeri itu.&#8221; Tanyaku bingung.<br />
&#8220;Itu buu&#8230;., yang bolong,&#8221; jawab Devi dengan muka takut.<br />
&#8220;Apa siih &#8230;??? &#8221; tanyaku bingung.<br />
&#8220;Sundel Bolong,&#8221; Ujarku &#8230; dengan keheranan.<br />
&#8220;Iiiiih &#8230;. , Kok Sundel Bolong siih bu !!&#8221; Ujar anak-anak serempak diiring tawa mereka.<br />
Giliran aku yang kebingungan, apa sih maksud anak-anak.<br />
&#8220;Ibu, sini dech&#8230;,&#8221; Ujar Devi sambil membisikkan sesuatu ke telingaku.<br />
&#8220;Ya &#8230;ampun, kenapa nggak bilang dari tadi&#8230;&#8221; Ujarku.<br />
&#8220;Kok,ibu kepikiran Sundel Bolong siih,&#8221; tanya anak-anak sambil menertawakanku.<br />
&#8220;Ya &#8230;udah kita ke kelas saja.&#8221; ujarku sambil beranjak dari kursi.<br />
&#8220;Nah, gitu bu&#8230;,&#8221; ujar anak-anak serempak.</p>
	<p>Aku ke kelas 9i diikuti anak-anak, Maulita menuntunku sambil menunjukkan kaca  pecah yang sudah penuh dengan tambalan, kemudian di tutup dengan karton yang berisi gambar-gambar hasil karya mereka.<br />
&#8220;Jadi ini yang bolong,&#8221; tanyaku sambil menunjuk kaca.<br />
&#8220;Iya ibu&#8230;, kok ibu kepikiran Sundel Bolong sih.&#8221; Tanya anak-anak sambil tertawa.<br />
Aku pun tertawa, lebih jelasnya menertawakan diri sendiri, kenapa sampai kepikiran SundelBolong segala.<br />
Rupanya, gara-gara takut dimarahi, mereka ingin menyembunyikan kaca pecah tersebut dengan menambalnya. Hampir tiga jam mereka habiskan waktu untuk menambal kaca tersebut. Setelah selesai ditambal, ketakutan menghinggapi anak-anak, karena kalau di pegang sedikit saja bisa jatuh dan itu lebih membahayakan bagi orang lain.<br />
&#8220;Ibu,&#8230; sekarang kita gimana, saya takut dimarahi guru-guru yang lain.&#8221;<br />
Kulirik jam dipergelangan tanganku, hampir pukul empat.<br />
&#8220;Ya &#8230;sudah, sekarang kalian pulang  sudah sore.&#8221;Jawabku.<br />
&#8220;Terus &#8230; kacanya gimana bu..?? Tanya anak-anak.<br />
&#8220;Ya &#8230;udah, itu urusan ibu.&#8221; jawabku<br />
Anak-anak berpamitan pulang sambil berterima kasih dan mencium tanganku.<br />
Aku kembali ke ruang guru, tertawa sendiri dan mengundang tanya dari teman-temanku.<br />
Ku jawab &#8220;ada Sundel Bolong&#8221; &#8230;. ha ha ha ha</p>
	<p>{Satu pelajaran bagiku, begitulah anak-anak menyelesaikan masalah dengan memunculkan masalah baru}</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/05/21/sundel-bolong/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita di Ambang Petang</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/04/28/130/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/04/28/130/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 06:23:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Diary</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/04/28/130/</guid>
		<description><![CDATA[	  
Sebenarnya, nggak ada yang istimewa dari gambar di atas. Hanya dua orang pegawai Telkom, yang berdiri di atas tangga, memperbaiki kabel jaringan telpon yang rusak. Tapi aku selalu ingin tertawa dan seringkali tersenyum sendiri  apabila melihat orang yang sedang bekerja di tiang telpon atau listrik, teringat pengalaman sahabatku.
Suatu hari, sahabatku pergi untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/Image008.jpg' alt='' />  <img src='/images/Image009.jpg' alt='' /><br />
Sebenarnya, nggak ada yang istimewa dari gambar di atas. Hanya dua orang pegawai Telkom, yang berdiri di atas tangga, memperbaiki kabel jaringan telpon yang rusak. Tapi aku selalu ingin tertawa dan seringkali tersenyum sendiri  apabila melihat orang yang sedang bekerja di tiang telpon atau listrik, teringat pengalaman sahabatku.<a id="more-130"></a><br />
Suatu hari, sahabatku pergi untuk melayat kakek dari  suaminya yang meninggal.  Sahabatku pergi mengendarai mobil seorang diri di suatu petang menjelang magrib. Masalahnya adalah sahabatku tidak biasa mengendarai jika hari telah gelap &#8230;  Karena tergesa-gesa ketika memundurkan mobilnya, tanpa sadar dia menubruk tangga yang bersandar ke tiang listrik, dia menengok sebentar, dia pikir suara apa? Toh di belakang tidak ada apa-apa. Dia kembali melajukan mobilnya, lewat kaca spion dia lihat seorang perempuan yang melambai-lambaikan tangannya minta tolong.<br />
Rupanya ada orang yang tergelantung di tiang listrik, tangganya jatuh.  Temanku kaget &#8230;.sekaligus ingin tertawa juga.<br />
Makanya kemarin sore ketika ada pegawai telkom memperbaiki jaringan  telpon di depan rumahku aku iseng memotretnya.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/04/28/130/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;AsEp StRaWbErY&#8217;</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/04/20/asep-strawbery/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/04/20/asep-strawbery/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 10:32:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Diary</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/04/20/asep-strawbery/</guid>
		<description><![CDATA[	Asep Strawbery adalah nama sebuah rumah makan yang terletak di Nagreg  Garut. Kalau dari arah Bandung kita melewaati jalan yang ke arah Tasikmalaya. Tempat makan ini lumayan nyaman, bahkan sangat cocok untuk mereka yang merindukan suasana alami, kita bisa makan sambil  memandang sawah, gunung yang jarang sekali kita temukan di kota-kota besar. Makanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Asep Strawbery adalah nama sebuah rumah makan yang terletak di Nagreg  Garut. Kalau dari arah Bandung kita melewaati jalan yang ke arah Tasikmalaya. Tempat makan ini lumayan nyaman, bahkan sangat cocok untuk mereka yang merindukan suasana alami, kita bisa makan sambil  memandang sawah, gunung yang jarang sekali kita temukan di kota-kota besar. Makanan yang tersedia adalah makanan khas Sunda, seperti  Nasi Liwet.<br />
<img src='/images/Image003.jpg' alt='' />      <img src='/images/Image038.jpg' alt='' /><br />
Entah kenapa dinamakan Asep Strawbery, mungkin kalau Asep pemiliknya yang bernama Asep, kalau starwbery, hanya sedikit kutemukan pohon Strawbery.<a id="more-129"></a><br />
<img src='/images/Image039.jpg' alt='' />       <img src='/images/Image044.jpg' alt='' /><br />
Selain makan, melihat pemandangan yang begitu alami, kita juga dapat mengajak anak-anak kita untuk melakukan Out bond, di sana ada Flying fox, menunggang kerbau. Atau sekedar berjalan-jalan menyusuri sungai sungai kecil.<br />
<img src='/images/Image037.jpg' alt='' />      <img src='/images/Image036.jpg' alt='' /><br />
Ada yang disayangkan ketika makan di sini, pertama pelayanan yang sangat lama, kami harus menunggu sampai dua jam. Ketika makan baru juga selesai tempat kita sudah di tunggu untuk pelanggan kita berikutnya. Jadi nunggu lama pas makan di buru-buru.<br />
                                                   <img src='/images/Image045.jpg' alt='' /><br />
Nah seperti ini saja, untuk membereskan tempat ini kita harus menunggu hampir satu jam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/04/20/asep-strawbery/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>BeUrIt, TiKuS, MoUsE</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/04/01/beurit-tikus-mouse/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/04/01/beurit-tikus-mouse/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 06:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Cerita Nia</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/04/01/beurit-tikus-mouse/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Tikus adalah binatang pengerat yang tidak disukai hampir semua orang, bahkan cenderung ditakuti dan dibenci. Sekarang ini gambar tikus sedang trend. Koruptor digambarkan seperti tikus. Jadi tikus ibarat artis mengisi kolom-kolom surat kabar.
Suatu hari, saya membaca curhatan seorang sahabat yang tinggal di Surabaya. Bagaimana rasa takutnya terhadap tikus. Akhirnya kami terlibat obrolan mengenai rasa takutnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/mouse.gif' alt='' /></p>
	<p>Tikus adalah binatang pengerat yang tidak disukai hampir semua orang, bahkan cenderung ditakuti dan dibenci. Sekarang ini gambar tikus sedang trend. Koruptor digambarkan seperti tikus. Jadi tikus ibarat artis mengisi kolom-kolom surat kabar.<br />
Suatu hari, saya membaca curhatan seorang sahabat yang tinggal di Surabaya. Bagaimana rasa takutnya terhadap tikus. Akhirnya kami terlibat obrolan mengenai rasa takutnya terhadap tikus, aku menertawakannya.Padahal dalam hatiku, aku juga takut, ngeri plus jijik terhadap binatang tersebut.</p>
	<p>Sebetulnya, banyak sekali pengalaman yang sangat tidak mengenakan hati berkenaan dengan tikus.<br />
Dulu, waktu aku masih muda &#8230;.( sedang jaya-jayanya&#8230; he he he ) ada pengalaman yang lumayan lucu juga menurutku. Saat itu aku sedang di depan kaca, sedikit berdandanlah. Ketika sedang asyik mematut-matut diri, tiba-tiba tikus lewat dengan santainya, ibarat peragawati yang sedang berjalan di Catwalk. Kontan aku terkejut dan melemparnya dengan sisir, entah karena aku berbakat menjadi pelempar lembing atau kebetulan saja. Lemparanku begitu tepat sasaran, membuat tikus terkapar dan mati di tempat. Itu adalah awal aku benci, ngeri dan jijik terhadap binatang yang bernama tikus.<a id="more-128"></a><br />
Ternyata, pepatah yang mengatakan &#8221; Jangan membenci berlebihan dan jangan pula menyukai berlebihan.&#8221; Ketika kita membenci sesuatu dengan berlebihan, apa yang kita benci itu akan menghampiri kita setiap waktu. Saya telah buktikan, karena kebenciaan terhadap tikus berlebihan jadi saya selalu dihampiri oleh tikus yang tidak pernah belajar sejenis etika, tata krama dan sopan santun, selalu nyelonong seenaknya. Ada beberapa tingkah tikus yang membuatku semakin membencinya</p>
	<p>Pertama; Suatu hari, waktu itu masih subuh&#8230; kubuka jendela lebar-lebar, kebetulan letak tempat tidurku bersebelahan dengan jendela. Saat itu aku ingin menikmati udara subuh yang dingin masuk ke kamarku. Ku biarkan jendela terbuka, aku melaksanakan kewajiban-kewajibanku di waktu pagi. Mandi, sholat, menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suamiku. Setelah selesai, aku kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur. Baru saja aku menarik selimut, tiba-tiba ada yang meloncat mengenai mukaku. Kontan aku menjerit dan berlari membuat seisi rumah panik dan bertanya-tanya ada apa?</p>
	<p>Kedua; Ketika itu, kami berempat, aku, saat itu sedang membaca novel kesukaanku, kedua anakku bermain dengan pembantuku di rumah. Tiba-tiba, anakku yang kecil berlari sambil berteriak ketakutan. Kuhentikan bacaan sambil bertanya.<br />
&#8220;Ada apa?&#8221;<br />
&#8220;Roda sepeda jalan sendiri,&#8221; Ujarnya dengan mimik takut.<br />
Aku berjalan ke arah dapur, kebetulan sepeda tersebut disimpan dengan cara digantung dekat dapur, dan hanya kelihatan bagian atasnya saja, bagian bawahnya terhalang rak sepatu.<br />
Benar saja aku perhatikan roda sepeda berputar-putar sendiri, terus terang aku kaget dan takut juga. Sambil menerka-nerka, ada apa? Ku halau rasa takut sambil mendekati sepeda dengan ditemani pembantuku. Ternyata, di roda sepeda itu, ada tikus yang berusaha melarikan diri tapi tidak bisa. Semakin kencang dia berlari semakin cepat dan keras roda sepeda berputar. Karena merasa terganggu dengan keributan kami, tikus tersebut berlari tanpa arah yang pasti, membuat kami berlari ketakutan dan membuat anakku yang paling kecil menangis.</p>
	<p>Ketiga; Ketika rumah kami renovasi, terpaksa kami harus pindah dan mencari kontrakan baru yang masih dikomplek yang sama. Akhirnya kami menemukan rumah yang sesuai dengan yang kami harapkan. Tidak terlalu mahal dan cukup nyaman bagi kami sekeluarga. Karena kondisi rumah di sekitar komplek kami sama, baik dari luas maupun bentuk rumahnya jadi kami mudah sekali beradaftasi dengan rumah kontrakan tersebut. Ada lagi, yang membuat kami nyaman adalah ruangan dapur dan ruang makan yang terbuka &#8230; jadi sambil memasak atau makan sambil memandang langit, yang pasti udara dengan bebasnya keluar masuk. Ternyata, ruangan terbuka banyak negatifnya. Ketika hujan turun, walau tidak kehujanan tetap saja membuat tidak nyaman. Terutama sang aktor dan aktris yang menakutkan yaitu TIKUS alias BEURIT alias  MOUSE. Anehnya tikus tersebut hanya menghampiriku. Yang lebih parah, bahkan pernah, ketika aku sedang memasak&#8230; tiba-tiba tikus menggigit kakiku. Jadi selama enam bulan di rumah kontrakan tiap hari aku olah vokal, yaitu menjerit-jerit ketakutan karena ulah sang tikus yang tidak tahu tata krama. Anehnya, tikus tersebut  menampakan diri hanya padaku. Entahlah, bahkan kata suamiku, tikus itu naksir aku. &#8230;.:-) bikin bete dan senewen aja tuh tikus.</p>
	<p>Lepas dari semua itu, tiap hari yang kulakukan di depan komputer adalah memegang mouse, walaupun note book yang digunakan tetap saja lebih enak menggunakan mouse. Beruntunglah Mouse yang satu ini tidak berbulu, berkumis, seperti tikus aslinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/04/01/beurit-tikus-mouse/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>IdE dAn KrEaTiViTaS</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/03/23/ide-dan-kreativitas/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/03/23/ide-dan-kreativitas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 03:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Diary</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/03/23/ide-dan-kreativitas/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Suatu hari, aku pernah  bahkan seringkali kehilangan ide untuk menulis. Sebetulnya kalau ditelaah lebih dalam, bukan kehilangan ide. Tapi kehilangan kreativitas dan kemampuan untuk mengolah ide menjadi sesuatu bahan bacaan yang enak dibaca dan memberikan manfaat bagi pembaca.
Ide dapat muncul  kapan pun, dan tak pernah memilih tempat untuk muncul begitu saja. Ide dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/great_idea.jpg' alt='Your ...idea...' /></p>
	<p>Suatu hari, aku pernah  bahkan seringkali kehilangan ide untuk menulis. Sebetulnya kalau ditelaah lebih dalam, bukan kehilangan ide. Tapi kehilangan kreativitas dan kemampuan untuk mengolah ide menjadi sesuatu bahan bacaan yang enak dibaca dan memberikan manfaat bagi pembaca.<br />
Ide dapat muncul  kapan pun, dan tak pernah memilih tempat untuk muncul begitu saja. Ide dapat muncul dari apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan saat ini. Seringkali,  ide yang muncul tidak langsung kita tuangkan dalam bentuk tulisan, tapi kita endapkan atau istilah teman-teman di FB kita tabung ide, setelah cukup  terkumpul barulah kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Hanya saja, seringkali ide yang terlanjur mengendap, menjadi betul-betul mengendap hingga kita kehilangan kemampuan untuk mengolah ide tersebut.<br />
Padahal, sehebat apa pun ide seseorang kalau hanya mengendap begitu saja, tidak ada artinya. Kita ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak sempat kita tuangkan dalam bentuk tulisan, saya pikir, ide tersebut hanyalah   bahan rongsokan dalam gudang otak kita.  Kita akan terhenyak, ketika ada orang lain yang menulis ide yang kita miliki atau ide yang hampir sama dengan ide yang kita miliki. Yang lebih parah lagi, sekarang ini banyak sekali orang yang suka mencari dan mencuri ide orang lain dan di klaim sebagai ide miliknya sendiri.<a id="more-127"></a><br />
Berbagai kemungkinan dapat terjadi; pertama kemungkinan orang tersebut memiliki ide yang sama dengan ide yang kita milki, kedua tanpa sengaja ketika kita terlibat obrolan santai dengan teman kita, kita sampaikan apa yang menjadi ide kita. Dan ternyata, teman kita lebih peka dan kreatif dalam menangkap kata-kata yang kita lontarkan, yang ternyata sebuah ide yang brilian. Kita tidak akan bisa menggugat, karena kita tidak memiliki bukti yang kuat, kalau apa yang mereka tulis itu berasal dari ide kita.  Siapa yang akan percaya toh kenyataannya teman kitalah yang pertama kali ,membuat tulisan, bahkan kita akan dianggap hanya mengekor ketenaran orang lain atau istilahnya numpang beken.<br />
Akhirnya, saya dapat menyimpulkan.Janganlah kita berbangga diri karena kita memiliki ide-ide yang begitu hebat, tapi hanya sebatas ide saja. Tanpa mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Mungkin kalau istilah teman saya,Sujarwadi.     “Yang terpenting adalah bagaimana kita mengeksekusi ide-ide yang kita miliki “.<br />
Ada lagi, komentar seorang teman. Ketika kita menyaksikan seorang penulis yang berhasil karena tulisannya yang fenomenal dia hanya berujar,” Sebenarnya, banyak kok orang lain yang memiliki pengalaman seperti dia. Hanya saja kebetulan dia menuangkannya dalam bentuk tulisan dan yang jelas dia bernasib baik.”<br />
Ya … itulah hebatnya orang yang memiliki kreativitas, dia mampu menuangkan ide yang sebagian orang dianggap remeh-temeh ternyata menghasilkan suata karya yang maha hebat. Akhirnya, timbul pertanyaan dalam diriku. Apa yang pernah kutulis, atau apa yang pernah dibuat oleh orang-orang yang suka mencibir hasil karya orang lain. Apakah kita hanya bicara dan bicara tanpa pernah membuat karya sedikit pun.<br />
Dalam buku Anak Semua Bangsa, buah karya Pramoedya Ananta Toer. Dikatakan,”Orang akan dikenang karena karya-karyanya”. Apakah kita akan meninggalkan alam fana ini tanpa menorehkan sesuatu untuk dikenang oleh, suami, istri, anak-anak, bahkan teman-teman kita, mungkin yang lebih jauhnya lagi oleh generasi kita selanjutnya. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, tak ada orang yang mampu menguasai segala ilmu. Pernahkah kita bertanya …apa sih minat kita yang sebenarnya? Atau apa siih yang sebetulnya ingin saya persembahkan untuk orang-orang terdekat kita, apakah uang, harta yang melimpah atau ilmu pengetahuan.<br />
Lalu … sudahkah kita mencoba, bahkan menguasai apa yang menjadi minat kita? Atau apa yang menjadi minat kita hanya sebatas angan-angan. Seperti kumpulan awan yang terlihat indah, sulit digapai dan cepat berlalu karena musim dan tertiup angin. Kita tidak perlu memiliki banyak kemampuan tapi dikuasai hanya setengah-setengah. Cukup dengan satu kemampuan tapi kita kuasai betul-betul. Jadikan minat yang lainnya sebagai pelengkap, memberi nuansa warna yang indah dalam hidup kita.<br />
Setiap helaan nafas , jam yang berputar, tiupan angin, dan  teriknya mentari. Menjadi ide untuk berkarya, Lewat tangan sang kreativitas yang mewujudkan setiap ide yang muncul menjadi sebuah mahakarya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/03/23/ide-dan-kreativitas/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Anak-Anak Istimewa</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/02/25/anak-anak-istimewa/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/02/25/anak-anak-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 02:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Tentang Anak-anak</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/02/25/anak-anak-istimewa/</guid>
		<description><![CDATA[	Suatu hari, aku mendapat beberapa foto dari sahabatku di Sorong.  Foto anak-anak di Papua, kupikir mereka anak-anak yang istimewa, memiliki kekuatan fisik yang jarang bahkan tidak dimiliki anak-anak yang tinggal diperkotaan pada umumnya.
 
Seorang anak mendayung perahu sendirian&#8230; dan kupikir tidak semua anak mampu melakukannya.
    
  Perempuankecil perkasa

< 
	  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Suatu hari, aku mendapat beberapa foto dari sahabatku di Sorong.  Foto anak-anak di Papua, kupikir mereka anak-anak yang istimewa, memiliki kekuatan fisik yang jarang bahkan tidak dimiliki anak-anak yang tinggal diperkotaan pada umumnya.<br />
<img src='/images/AnakdiSowekSupioriPapua12.JPG' alt='' /> <img src='/images/AnakdiSowekSupioriPapua3.JPG' alt='' /><br />
Seorang anak mendayung perahu sendirian&#8230; dan kupikir tidak semua anak mampu melakukannya.<br />
   <img src='/images/AnakdiSowekSupioriPapua2.JPG' alt='' /> <img src='/images/BelakangRSUSorong2006A.JPG' alt='' /><br />
  Perempuankecil perkasa<br />
<a id="more-126"></a><br />
< <img src='/images/BelakangRSUSorong2006B.JPG' alt='' /><img src='/images/BelakangRSUSorong2006C.JPG' alt='' /></p>
	<p>                                         Mereka memakanKelapa langsung tanpa dipotong terlebih dahulu</p>
	<p>Anak-anak, dimanapun dan apa pun keadaannya, hidupnya penuh dengan tawa dan kegembiraan. Mereka tidak tahu dibelahan bumi yang lain, anak-anak seusianya sibuk dengan Video games, Play station. Begitu sederhananya mereka dan banyak yang dapat kita petik dari kehidupan mereka. Salah satunya KESEDERHANAAN.<br />
( Terima Kasih untuk sahabatku yang sudah mengirimkan beberapa gambar untukku).
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/02/25/anak-anak-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>LaKi-LaKi SeJaTi</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/02/15/laki-laki/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/02/15/laki-laki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 04:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Tentang Anak-anak</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/02/15/laki-laki/</guid>
		<description><![CDATA[	

         Hari Rabu setelah istirahat, adalah jamku untuk mengajar di kelas 9H. Lima menit sebelum  bell berbunyi, Agung salah satu muridku di kelas 9H, menghampiriku.
&#8220;Bu ada yang ngamuk,&#8221; ujarnya.
&#8220;Iya Bu &#8230;!&#8221;Ujar anak-anak yang lain.
&#8220;Ngamuk?&#8221; ujarku sambil tersenyum.
&#8220;Iiiiiyaaa &#8230;.Ibu,&#8221; Jawab anak-anak yang lain begitu kompak seperti sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
<img src='/images/IMG_0871.jpg' alt='' /><br />
         Hari Rabu setelah istirahat, adalah jamku untuk mengajar di kelas 9H. Lima menit sebelum  bell berbunyi, Agung salah satu muridku di kelas 9H, menghampiriku.<br />
&#8220;Bu ada yang ngamuk,&#8221; ujarnya.<br />
&#8220;Iya Bu &#8230;!&#8221;Ujar anak-anak yang lain.<br />
&#8220;Ngamuk?&#8221; ujarku sambil tersenyum.<br />
&#8220;Iiiiiyaaa &#8230;.Ibu,&#8221; Jawab anak-anak yang lain begitu kompak seperti sudah latihan sebelumnya.<br />
&#8220;Ya &#8230;. sudah, Ibu masuk sekarang, ujarku.  Sambil menyuruh anak-anak untuk mengambil buku latihan yang sudah selesai kuperiksa.<br />
        Aku masuk kelas &#8230; anak-anak yang tadinya ribut, kembali duduk dengan manis, sambil sesekali menunjuk salah satu muridku yang bernama Zaenal. Matanya begitu merah, tangan mengepal, isak tertahan keluar dari mulutnya. Tatapannya lurus ke depan, ada amarah dalam tatapannya. Aku begitu ngeri juga melihatnya. Satu kenyataan kudapatkan, jangan pernah remehkan orang marah &#8230;. walau itu hanya anak-anak. Ternyata mengerikan juga. Kudekati dia &#8230;. isaknya semakin keras dan kurasakan dia berusaha menahan amarah yang sangat besar. Kuusap-usap punggungnya ( itu yang biasa kulakukan kalau anakku menangis, dan biasanya ampuh ) sambil kutanya kenapa? <a id="more-125"></a><br />
Dia tidak menjawab pertanyaanku, pandangannya tetap lurus ke depan. Kualihkan pandangan ke anak-anak yang lain, sambil kutanya Zaenal kenapa?<br />
&#8220;Digangguin&#8230;&#8230; Bu!&#8221;Jawab &#8230; anak-anak perempuan.<br />
&#8220;Siapa yang mengganggu Zaenal ?&#8221; tanyaku.<br />
Tak ada jawaban &#8230;. hanya sempat kuperhatikan, pandangan anak-anak tertuju pada Rendy dan beberapa anak lainnya, kuperhatikan juga Rendy salah tingkah.<br />
Kenyataan kedua &#8230; Anak-anak tidak pernah bisa menyembunyikan kebohongan atau pun kesalahan yang mereka lakukan.<br />
Kuajak Zaenal untuk ke luar dari kelas, tapi dia menolak.<br />
Kucoba bertanya, &#8220;Siapa yang mengganggu kamu?&#8221;&#8230;. dia gelengkan kepala sambil berujar, Percuma bu &#8230; kalau saya katakan nanti dia dendam pada saya,&#8221; jawabnya dalam isak tertahan.<br />
&#8220;Ya sudah &#8230; kalau kamu ingin nangis, keluarkan saja, jangan ditahan.&#8221;<br />
         Aku kembali ke depan kelas, kupandangi anak-anak. Mereka terdiam seolah menunggu vonis yang akan dijatuhkan. Padahal aku bukanlah hakim yang memiliki hak untuk menjatuhkan vonis.<br />
&#8220;Kalian tahu tidak, seperti apakah laki-laki sejati?&#8221; tanyaku.<br />
Kulihat anak-anak tersenyum&#8230;. ketegangan hilang dari raut wajah mereka.<br />
&#8220;Laki-laki sejati itu bukanlah, yang berbadan tegap atau pun yang pandai berkelahi. Tapi laki-laki sejati adalah laki-laki yang memiliki tanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dia lakukan, mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf. Dan berjanji tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.&#8221;<br />
         Tiba-tiba kulihat Zulkarnaen, Imam, Rendy dan diikuti oleh hampir seluruh anak laki-laki di kelas itu berdiri  menghampiri Zaenal sambil mengulurkan tangan untuk meminta maaf.<br />
         &#8220;Orang yang paling mulia adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menyimpan dendam dalam hatinya,&#8221; ujarku, karena kulihat Zaenal begitu enggan mengulurkan tangan untuk memberi maaf. Setelah mendengar perkataanku zaenal mengulurkan tangan untuk memberi maaf pada teman-temannya.<br />
        Ada kelegaan dalam hatiku, begitu pun anak-anak. Mereka kembali belajar tanpa ada beban sedikit pun. Aku pun kembali mengajar selama dua jam di kelas tersebut. Selama dua jam pelajaran Zaenal tidak belajar, dia masih terdiam tapi sinar kemarahan, kekesalan sudah hilang dari wajahnya.<br />
        Esoknya, aku bertemu dengan Zaenal, dia sedang tertawa dan bercanda bersama teman-temanya. Dia memanggilku sambil mengucapkan salam dan tersenyum. Itulah anak-anak, mereka begitu mudah melupakan kemarahan, dendam yang bersarang dihatinya. Seandainya orang-orang dewasa seperti mereka, betapa damai  hidup ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/02/15/laki-laki/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>YoGyA ToUr&#8230;..</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/01/31/yogya-tour/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/01/31/yogya-tour/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 03:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Diary</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/01/31/yogya-tour/</guid>
		<description><![CDATA[	        Tanggal 26 januari tepatnya pukul 09.30 kami berangkat dari sekolah menuju Yogyakarta, seharusnya kami berangkat pukul 09.00 tepat&#8230; berhubung jam yang digunakannya dari karet akhirnya waktunya juga ikut-ikutan ngaret. Perjalanan sempat terganggu karena ada bis yang masuk jurang&#8230; lumayan macet hampir satu jam. Tujuan kami yang pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>        Tanggal 26 januari tepatnya pukul 09.30 kami berangkat dari sekolah menuju Yogyakarta, seharusnya kami berangkat pukul 09.00 tepat&#8230; berhubung jam yang digunakannya dari karet akhirnya waktunya juga ikut-ikutan ngaret. Perjalanan sempat terganggu karena ada bis yang masuk jurang&#8230; lumayan macet hampir satu jam. Tujuan kami yang pertama adalah Jatijajar.<br />
<img src='/images/DSCF0011.JPG' alt='JatiJajar' /><br />
Rasa penat terobati setelah kami sampai di Jatijajar. Berhubung kami datang terlambat banyak teman-teman yang tidak sempat mandi, tapi aku sempet mandi lho&#8230;.bener deh sumpah&#8230;. he he he&#8230;<br />
Pukul sembilan kami melanjutkan perjalanan menuju Prambanan, sebelum ke Prambanan kami mampir ke Grafika untuk makan siang.<a id="more-124"></a><br />
<img src='/images/DSCF0013.JPG' alt='' /><br />
Aldila&#8230; Heny &#8230;.  Christine &#8230;.asyik makan<br />
<img src='/images/DSCF0015.jpg' alt='' /><br />
       Gurunya juga harus makan dong&#8230;.. niih dia&#8230;<br />
Menunggu hujan&#8230;. ya makan sambil ngobrol dan mejeng deh<br />
<img src='/images/DSCF0017.JPG' alt='' /><br />
Perjalanan kami menuju Prambanan agak tersendat karena hujan yang tiba-tiba datang&#8230;. duuuh akhirnya kami menunggu di Grafika.<br />
Hujan&#8230;. agak reda, kami lanjutkan perjalanan sambil berdoa mudah-mudahan di Prambanan cuaca bersahabat dengan kami. Tapi manusia sebatas berharaf Tuhanlah yang menentukan, hujan tak kunjung reda &#8230;. tapi biarlah&#8230; buat apa payung diciptakan, betul nggak sihh?<br />
<img src='/images/DSCF0047.JPG' alt='' /> <img src='/images/DSCF0051.JPG' alt='' /><br />
Ternyata pake payung makin &#8230; asyik lho !<br />
<img src='/images/DSCF0057.JPG' alt='' /> <img src='/images/DSCF0069.JPG' alt='' /></p>
	<p>Rasanya cape juga niih  setelah jalan-jalan di Prambanan, perjalanan kami lanjutkan menuju hotel tempat kami menginap.<br />
<img src='/images/DSCF0081.JPG' alt='' /><br />
Niiih Pak Danarius yang sepanjang perjalanan cukup jail juga, mengabadikan orang yang lagi terlelap tidur lewat kamera sakunya, yang akhirnya dia juga tidak bisa tidur dengan tenang takut di jailin&#8230;. nah lho! Terbukti juga, dia nggak tahu di belakangnya pak Sutarmas berdiri mengabadikan &#8230; fotografer amatiran&#8230; he he he<br />
Sampai hotel&#8230; mandi, makan malam&#8230; jalan-jalan di Mali0boro &#8230;. duuuh anak-anak kok nggak ngantuk-ngantuk yah. jadinya kami juga nggak bisa tidur.<br />
Esoknya perjalanan kami lanjutkan menuju keraton, taman pintar dan borobudur.<br />
<img src='/images/foto.JPG' alt='' /> <img src='/images/DSCF0100.JPG' alt='' /><br />
Sampai di Borobudur kami terlalu sore akhirnya kami kembali di guyur hujan&#8230;.. hiks&#8230;.hiks<br />
<img src='/images/DSCF0125.JPG' alt='' /><br />
Aku dan anak-anak 9i<br />
<img src='/images/DSCF0123.JPG' alt='' />                    <img src='/images/DSCF0124.JPG' alt='' /><br />
Aku dan mbak Kristin&#8230; yang sangat baik&#8230; bener lho !    Borobudur &#8230; nampakAgung&#8230;.<br />
Lepas dari semuanya&#8230;. perjalanan kami sangat menyenangkan, banyak pelajaran yang dapat kupetik dari setiap peristiwa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/01/31/yogya-tour/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Yesterday, &#8230;.My BiRtHdAy</title>
		<link>http://nia.blogsome.com/2009/01/22/yesterday-my-birthday/</link>
		<comments>http://nia.blogsome.com/2009/01/22/yesterday-my-birthday/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 06:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nia</dc:creator>
		
	<category>Diary</category>
		<guid>http://nia.blogsome.com/2009/01/22/yesterday-my-birthday/</guid>
		<description><![CDATA[	

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/birthdaycakehappy.gif' alt='' />
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nia.blogsome.com/2009/01/22/yesterday-my-birthday/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
